• Hilyatul Qalam

    HQ CALLIGRAPHY

    Kontak person kami: 081578770302, 085327894104. PIN BB 5BBFDDE1. Pelayanan jasa pembuatan kaligrafi dekorasi interior masjid, lukis awan kubah masjid, kaligrafi relief timbul, kaligrafi lukis, kaligrafi stainless, kaligrafi kuningan, desain ornamen Islam dan kaligrafi cinderamata.

  • Innovation

    Innovation & Excellence

    "Seni kaligrafi Islam itu dihasilkan untuk mencerminkan nilai-nilai yang merangkumi seluruh aspek kehidupan manusia muslim. Ia dicipta bukan untuk melahirkan watak individu tertentu atau melahirkan perasaan jiwa individu atau melahirkan sifat keegoan." (Irfan Ali Nasrudin, S.H.I)

  • Our Work

    Our Work

    Spesialis Dekorator dan Design kaligrafi Masjid, Mushola, Rumah Pribadi, Sekolah, Kantor, Dekorasi Kaligrafi Panggung MTQ, Kaligrafi dan Letter Stainless, Kaligrafi Kuningan, Kaligrafi Relief Timbul.

Sunday, December 11, 2016
Text Size
   
Image Caption

Kaligrafi Dekorasi Bergaya Mushaf (KANTOR UMI PERKASA, YOGYAKARTA 2012)

Image Caption

Kaligrafi Depan Pengimaman (MASJID PENGADILAN TINGGI NEGERI SEMARANG JATENG 2011)

Image Caption

Kaligrafi Dinding Memanjang Minimalis (MASJID ASSAAJINAH BERBAH YOGYAKARTA 2010)

Image Caption

Kaligrafi Dinding Memanjang Rumit (MASJID NURUL IMAN GEDONG KUNING YOGYAKARTA 2010)

Image Caption

Kaligrafi Dinding Memanjang Standar (MASJID DARUSSALAM SAT BRIMOBDA POLDA DI YOGYAKARTA 2011)

Image Caption

Kaligrafi Kubah Masjid (MASJID ATTAUBAH ISLAMIC CENTER KOTA AMBON MEI 2012) lokasi : MTQ Nasional ke-XXIV

Image Caption

Kaligrafi Kuningan

Image Caption

Kaligrafi Mihrab Masjid (MASJID HIKAMH TAWAKAL UNIVERSITAS MERCUBUANA YOGYAKARTA 2007)

Image Caption

Kaligrafi Naskah

Image Caption

Kaligrafi Platfom Atas (GEDUNG MADRASAH IBTIDAIYAH NEGERI SUKOHARJO 2011)

Image Caption

Kaligrafi Relief Timbul efek Granit dan Marmer (MASJID LABBAIK SONO PAKIS LOR YOGYAKARTA 2011)

Image Caption

Kaligrafi Semen Timbul (MASJID ASSOFFA' KARTOSURO SUKOHARJO 2010)

Image Caption

Kaligrafi Stainless (MASJID RAYA ALMUTAQUUN PRAMBANAN JATENG 2009)

Image Caption

Kaligrafi Lukis Kanvas

Image Caption

Lukis Awan Kubah Masjid (MASJID JAMI'AL ANWAR CIGANJUR JAKARTA SELATAN 2012)

Image Caption

Kaligrafi Cincin Kubah Masjid (MASJID ALIHSAN PERUM JAKA PERMAI KOTA BEKASI 2011)

Image Caption

Kaligrafi Platform Atas (KANTOR HILYATUL QALAM KALIGRAFI 2012)

Image Caption

Kaligrafi Mushaf Dekoratif 2 (KANTOR HILYATUL QALAM KALIGRAFI 2008)

Image Caption

Proses Pembuatan Kaligrafi (MASJID QTEL, CANGKRINGAN, SLEMAN, YOGYAKARTA 2012)

Image Caption

Kaligrafi Design Kubah

Studi Tentang Lukisan Alam Hendra Buana
Written by irfan2014   
Friday, 28 October 2016 12:49

 

Alam sebagai Guru - Sumatera sebagai Ilmu

Studi tentang Lukisan Pemandangan Hendra Buana

Oleh Mikke Susanto*

“Sumatera merupakan satu wilayah budaya yang paling penting di Asia Tenggara,” demikian teks yang tertera dalam majalahSumatra Research Bulletin di tahun 70-an. Menurut peneliti Anthony Reid, sampai pada dasawarsa ini, Sumatera sebagai sebuah kesatuan bahasa, budaya, mitologi, prasejarah, atau ekonomi belum diteliti secara mendalam. Padahal, Sumatera tak bisa dilepaskan dari berbagai hal dan bersifat plural di dalamnya.

Menariknya, sejumlah nama pun pernah dipakai untuk Sumatera. Pada masa awal kemunculan Islam di bagian utara (1297) dan pada saat pendaratan orang-orang Eropa, Sumatera masih dikenal dengan mana Samudera (Sansekerta berarti “laut”). Penjelajah Marco Polo menyebutnya sebagai kota Golden Cipango.

Sumatera dalam sejarah klasik diduga pula sebagai Taprobana, sebuah nama yang diberikan oleh pemikir Yunani, Ptolemius. Oleh bangsa Yunani lain juga disebut Elysium atau “pulau-pulau yang diberkati” atau disebut pula dengan nama Hades. Sumatera disebutPunt oleh orang Mesir, Dilmun oleh bangsa Mesopotamia, Hawaiki oleh bangsa Polinesian, Swarga oleh masyarakat Hindu awal, danSkhavari oleh masyarakat Buddhis.

Bangsa Celtic menamainya dengan AvalonEmain Abbalach, atau juga Ynis Wydr (Pulau Kaca), atau Flath Ynis (Pulau para Pahlawan). Bangsa India Tupi Brazil menyebutnya Yvymataney. Bagi bangsa Aztec Meksiko disebut Aztlan atau Aztatlan atau Atitlan. Bangsa Maya Yucatan menyebutnya dengan Tollan.

Pulau yang sering disebut sebagai “tanah emas pengawal gerbang menuju harta Asia Tenggara” dikenal juga sebagai Suwarnabumiatau Suvarna-dvipa (surga diantara dua laut). Tanah besar Sumatera ini tidak luput pula disebut sebagai pulau penting dalam kisah-kisah kepahlawanan India dan “Jawah” oleh para kelana Islam, jauh sebelum terpisah karena letusan Krakatau.

Peneliti sekaligus ahli nuklir Brazil, Arysio Santos, secara khusus memastikan bahwa Sumatera atau Taprobana atau Tamraparna(tamara-parana atau Semenanjung Emas), atau Seylan, merupakan pulau atau benua yang sama dimana orang Hindu menempatkan surga asli mereka, yang juga dikatakan telah tenggelam dalam sebuah bencana global. Bencana global yang dimaksud kemungkinan besar adalah cairnya es yang menimbulkan tsunami setinggi 1 mil di era Pleistosin (2,7 jt yang lalu) dan letusan Gunung Krakatau.

Ada pula yang menyebut Sumatera sebagai Kumari Kandam, tanah air primordial bangsa Hindu Dravida yang telah tenggelam, yang juga sama dengan Lanka atau Tripura, kota tradisional dalam tradisi RamayanaLanka dipercaya sebagai ibukota awal hari, dimana matahari memulai kesibukannya. Bagi orang Indonesia atau Jawa yang percaya bahwa Ramayana tidak sekadar dongeng, Langkadekat dengan sebutan Alengka atau Ngalengka, pusat kerajaan Rahwana yang mendunia.

***

Sumatera memang tiada banding. Pulau terbesar keenam di dunia ini menyimpan sumber daya alam yang amat besar. Sejak puluhan juta tahun yang lalu, Sumatera terpisah dari daratan Asia (termasuk dari Jawa dan Borneo). Puluhan ribu tahun dalam konteks sejarah memang termasuk durasi waktu yang pendek.

Di samping itu, Pulau Samudra ini memiliki tanda alam yang khas: bagian barat berupa barisan pegunungan, Bukit Barisan, yang terbentuk sejak 60 juta tahun yang lalu, termasuk karena gesekan lempeng dan goncangan geologi serta letusan gunung melahirkan Danau Toba; dan bagian timur di dominasi dengan adanya sungai dan rawa yang telah muncul sejak zaman Plestosin.

Kekayaan alam berupa hutan, sumber daya mineral, sungai, serta lekuk lapisan bumi menjadikan pulau ini penuh dengan panorama yang mencengangkan. Lanskap dengan pesona gunung, persawahan, tanaman, serta aktivitas manusia semakin menambah kualitas pulau ini. Di samping daratan, ada pula daerah pesisir dengan ragam pasir berwarna yang tak mudah dilupakan. Sepanjang sisi barat dan timur Sumatera berjajar pemandangan laut yang menarik. Dengan modal alam semacam ini sangat besar kemungkinan bermunculan peradaban di sejumlah kawasan di Sumatera: Aceh, Batak, Minangkabau, Nias, Riau, Palembang, dan sebagainya.

Tak pelak, Sumatera akhirnya menjadi salah satu lokasi yang terus-menerus dicari oleh penjelajah seantero dunia, mulai dari bangsa Turki, Arab, Cina, Portugis, Spanyol, Belanda, dan Jepang yang kemudian menjajahnya.

Kawasan Sumatera Barat adalah satu diantara yang kawasan penting di Sumatera. Kawasan ini didiami oleh komunitas Minangkabau. Sejarah mereka terbentuk dari kawasan gunung menuju pesisir, dari dataran tinggi ke dataran rendah. Pusat pemukiman awal mereka berada di Gunung Merapi di dekat Bukittinggi, yang sering disebut Luhak nan Tigo. Lalu terpecah menjadi beberapa komunitas, salah satunya adalah Luhak Tanah Datar, selain Luhak Agam, dan Luhak Limapuluh Kota. Ketiganya merupakan jantung alam budaya klasik Minangkabau.

Kawasan ini berupa perbukitan yang merupakan dataran penghasil beras yang besar. Dalam kepustakaan Belanda disebutPadangsche Bovenlanden (Padang Darat) atau dataran tinggi Minangkabau. Jantung alam Minangkabau yang berpusat di Istana Pagaruyung inilah yang menjadi sentral segala kebijakan.

Kawasan ini menjadi kawasan berpenduduk padat. Kawasan ini secara geografis membentuk mangkok alam yang besar, dengan lereng-lereng yang menawan, hijau rimbun penuh dengan pepohonan. Gunung-gunung seakan menjadi dinding alami. Sawah diairi oleh curah hujan yang konstan dan tetap sepanjang masa, ditambah dengan sumber air yang didapat dari topografi yang menguntungkan.

Kawasan yang dihiasi dengan lembah dan gunung seperti Gunung Merapi, Gunung Singgalang, Gunung Talang, dan Gunung Sago menyebabkan mata yang memandang seakan-akan tersihir karena tiada batas pandang.

Bukit Barisan dengan kawasan hutan yang menopang persawahan yang berjenjang memberikan suasana Minangkabau menjadi bisa sedemikian unik. Di samping gunung, terdapat dua danau, Singkarak dan Maninjau memberikan keuntungan tiada bernilai. Rumah Gadang, jalan setapak, dan aktivitas manusianya turut memberikan gambaran betapa Sumatera memang layak digambarkan sebagai pulau Suavarna-dvipa.

***

Kenangan itulah yang digambarkan secara tersurat dalam lukisan-lukisan Hendra Buana, khususnya tentang citra alam dan budaya Minangkabau. Sumatera dalam diri Hendra telah menjadi objek sekaligus jiwa. Pelukis yang lahir dari kawasan Tengah Hilir, Bukittinggi ini setidaknya ingin menangkap ke-klasik-an masa lampau sebagai upaya menciptakan pesona baru. Lukisan-lukisannya menghadirkan kegairahan dan dinamika alam, baik yang tenang ataupun yang bergolak. Di lain pihak lukisan-lukisan Hendra memangku kemegahan panorama yang mengakar kuat pada benak siapapun yang pernah melihatnya.

Dalam diri Hendra Buana, mimpi, bayangan, imajinasi, dan realitas tentang Sumatera telah membaur menjadi satu dan diakumulasi sebagai bentuk citraan yang tak berkesudahan. Kesyahduan, keganasan, kegundahgulanaan, keriangan, kecantikan, dan kereligiusan adalah atmosfir yang selalu didendangkan dalam lukisan-lukisan alamnya.

Jika dilacak satu-persatu, pada setiap lukisan yang dihasilkan tak satupun yang menandai sepenuhnya keriangan alam, seperti yang dihasilkan pelukis seniornya, Wakidi. Ia lebih banyak menjadikan alam sebagai objek simbolis, sekaligus ruang tafakur dan mengangkat jiwanya untuk dekat kepada-Nya. Lanskap adalah instrumen menuju ingatan tentang spirit yang lebih besar: Allah maupun peringatan-peringatan-Nya bagi manusia.

Bagi Hendra Buana, Sumatera sebagai objek tak sepenuhnya laras dengan anggapan para peneliti atau wisatawan, yang dianggapnya selalu menarik dan eksotis. Sumatera adalah surga sekaligus “ruang antara” baginya untuk menuju ke alam yang lebih hakiki. Sumatera tak hanya berisi barisan gunung, kepingan budaya, sebaris pantai panjang berkarang dan berpasir lembut, segulung langit dan kabut, serta sebongkah ngarai, namun juga bagian dari persoalan bagi masyarakat dan dirinya sendiri. Ia sebagai bagian dari “tanah emas diantara dua samudera” hendak menyatakan diri bahwa tak sepantasnya “tanah emas” ini hanya dinyatakan secara fisik, namun “tanah emas” ini lebih nyata didengungkan dan diartikan sebagai “dataran tinggi yang dekat dengan Sang Maha Pencipta”.

Lukisan-lukisan Hendra secara kasat mata menjelma menjadi peradaban baru: surga yang tetap memiliki persoalan. Apalagi Sumatera pada saat ini. Lukisan berjudul Hutanku terbakar di Sumatera (1997) membuktikan akan hal ini. Pesan semacam inilah yang terus-menerus hendak diingatkan oleh Hendra Buana melalui lukisan pemandangannya!

Dalam konsep visual, model kreatif seni lanskap yang dikerjakan Hendra Buana tidaklah semata-mata seni lanskap biasa. Maksudnya, ia tidak semata-mata mengerjakannya dengan pola turun lapangan dan menggambarkan senyata adanya. Ia mengaku bahwa kebanyakan dalam melukis hanyalah mengambil bagian yang dia inginkan. Lalu ia membawa ke studio untuk digubah sesuai dengan tema yang hendak diketengahkannya.

Secara teknis ia lebih banyak mengumpulkan objek-objek yang diperlukan untuk dipadu-padankan sehingga lahir gambaran lanskap yang baru. Lokasi yang berbeda-beda, objek yang diambil dari beberapa tempat tersebut digabung untuk menciptakan “drama” yang baru.

Konsep semacam ini telah diketengahkan oleh pelukis Hieronymus Bosch, Claude Lorrain, dan Nicolas Poussin sejak tahun 1400-1600an M, yang mengetengahkan gaya seni lukis pemandangan yang disebut “ideal-klasik”. Masa perkembangan seni lukis pemandangan ini berakhir hingga munculnya seni lukis beraliran Romantisisme dan Realisme di akhir abad ke-19 di Eropa.

Lukisan pemandangan ideal-klasik dihasilkan tidak hanya semata-mata untuk menciptakan dunia baru yang serba ideal, namun juga berfungsi untuk menggambarkan atau mengilustrasikan sebuah babakan dari sebuah cerita atau dongeng fantasi.

Lukisan ideal-klasik mendapatkan sasaran yang tepat ketika seseorang ingin merasakan sebuah ruang baru yang diidam-idamkan, seperti untuk menggambarkan surga atau lokasi dimana para tokoh pada kisah, legenda, atau dongeng pernah hidup. Sayangnya, semua hanyalah fantasi, perkiraan, atau imajinasi dari kepingan ruang terpisah yang disatukan. Artinya lukisan ideal-klasik tidak dapat dipakai sebagai rujukan ruang atau realitas yang sebenarnya.

 

 

Claude Lorrain, Village fête & Nicolas Poussin, Orpheus and Eurydice

 

Hendra Buana sering melakukan pendekatan ini bertujuan utamanya untuk menciptakan “drama alam” (sedangkan Bosch, Lorrain, dan Poussin menciptakan “drama tragedi manusia”). Drama alam Hendra tertera seperti pada seri karya Nabi Nuh, kisah masa depan, ruang kosmos, maupun kisah/makhluk fantastik lain.

Karya-karya bertajuk Perahu Nabi Nuh I-III, Perahu Nabi Nuh IV (1997), Perahu Nabi Nuh V (1997), Jagad Raya I-III (1997), Bahtera Nabi Nuh (2001), Pertemuan Raja dan Ratu (2003), Pertemuan Raja dan Ratu II (2003), Danau Cinta (2003), Sepasang Phoenik (2003), danJakarta 2020 (2011) adalah bagian dari pengalaman kreatifnya yang mengakar pada konsep seni lanskap ideal-klasik. Meskipun tak seratus persen senada dengan asumsi di atas, kreativitas Hendra semacam ini terlihat pula pada karya Kisah Sang Putri D. (1997). Dengan cara demikian Hendra dapat merasakan kebebasan berimajinasi dan menelusuri ranah apapun tanpa batas. Ia dapat berlari dan kembali menuju dimensi ruang dan waktu yang dia inginkan.

Studi khusus mengenai seni lukis ideal-klasik dilanjutkan dengan pola yang hampir sama dengan munculnya seni lukis pemandangan bergaya Romantisisme dan Neo-klasik, dimana unsur sejarah (seperti reruntuhan kuil atau candi, peperangan, kehidupan masa lalu) dimasukkan ke kanvas oleh pelukisnya. Seni lukis pemandangan Neo-Klasik akhirnya tidak saja berisi dongeng saja, namun berkembang menjadi ilustrasi sejarah atau dokumentasi peristiwa. Sejumlah pelukis Belanda yang datang pada masa kolonialisasi yang pernah berkarya di Indonesia pada masa akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20 adalah contoh paling dekat dengan kasus ini.

Seni lukis pemandangan Romantisisme akhirnya sering dipandang menjadi pintu untuk melacak dokumentasi sejarah, termasuk pemandangan dan kisah yang ada di Sumatera, seperti dilakukan oleh para pelukis Belanda pada masa kolonial.

***

Dari sejumlah karya seni lukis lanskap yang pernah dihasilkan Hendra Buana dapat dibedakan setidaknya menjadi 2 ragam pola pengerjaan. Pertama, pola yang secara visual adalah kuasi-mimesis, dimana keadaan yang digambarkan mendekati aslinya. Setidaknya dalam karya-karya yang berpola ini terdapat upaya untuk mendekatkan objek seperti apa adanya. Pada pola semacam ini pemikiran representasional sangat kuat. Gaya lukisannya hampir setara dengan sifat-sifat naturalisme pada umumnya. Namun tentu saja secara konsep pola ini berbeda dengan gaya Naturalisme (Barat). Pada pola kuasi-mimesis tampak pada karya berjudulBerbenah Menjelang Senja (2010), Danau Cinta (2010), Desa Koto Baru (2010), Kabut Sutra Di Kaki Bukit Bodarai (2011), dan Senja di Sianok (2011), Sianok dan Harao (2010).

 

 

Hendra Buana, Danau Cinta & Hendra Buana, Negeriku Damai Hijau Merdeka (detail)

 

Kedua, lanskap dengan pola abstraksi, dimana realitas yang digambarkan memiliki keadaan yang berbeda dengan aslinya. Meskipun ia menggambar objek yang ada, namun tidak sepenuhnya divisualisasikan secara mimesis, bahkan memiliki kemungkinan lebih jauh, hingga sampai pada visualisasi yang fantastik, mengakar pada visualisasi surealistik, atau bahkan abstrak. Karya bertajuk Negeriku Damai Hijau Merdeka (2003-2011) adalah karya raksasa yang dikerjakan dengan pola abstraksi yang kuat. Konten dan konsep utama lukisan ini jelas sekali ingin mengetengahkan lanskap Indonesia yang terbentang dari barat hingga timur. Anda dapat menjumpai detail berupa tanda-tanda alam dan budaya seperti gunung, persawahan, rumah, teks dari bahasa tertentu, sampai ornamentasi yang disatukan oleh sebidang “tanah luas” dengan tekstur yang dihiasi dengan pola-pola ritmik dan berulang. Tidak lupa pula adanya abstraksi pohon yang terangkai dalam perulangan yang monoton membujur dari sisi kanan hingga kiri kanvas.

Munculnya teks dalam kanvas pemandangan Hendra Buana adalah perkara lain. Kaligrafi dan sejumput teks berbahasa Minang, Melayu, Indonesia, atau bahasa lain adalah imbuhan dari persoalan spirit non-visual. Aura tradisi dan adat, spirit religiusitas, semangat primordial, dan konsep kebangsaan menjadi pilihan yang tak mungkin dilepaskan dari kehidupan pribadinya. Ketika semangat penggalian identitas dieksplorasi, maka imbuhan-imbuhan di atas menjadi pilihan penting untuk ditera dalam karya.

Hendra Buana menyemai pendidikan di Yogyakarta. Di sana ia bertemu dengan beragam individu dari seluruh Nusantara. Ia melakukan diskusi, mendapatkan pencerahan dan pelajaran dari berbagai arus budaya. Oleh karena itu, ia lalu menggali persoalan-persoalan untuk mengetengahkan identitas dirinya sebagai personal yang bebas, sekaligus tetap terikat sebagai masyarakat Minangkabau yang khas. Ia bukanlah tipe yang melakukan perubahan total terhadap pandangan lama. Ia lebih banyak menggulirkan ide-ide klasik menjadi bagian dari penggalian identitas personal baru. Baginya persoalan tradisi bukan ditinggalkan, namun disemai, ditafsir, dan dirangkai ulang menjadi hal yang selalu representatif pada zamannya.

Teks-teks berupa kaligrafi Arab adalah bagian dari identitas keislamannya yang mengakar kuat sejak kecil. Alquran sebagai sumber inspirasi baginya cukup memberi sumbangan yang signifikan sebagai perantara persoalan-persoalan yang tengah dan telah terjadi di masyarakat, terutama di Sumatera. Oleh sebab itu persoalan masyarakat hanya bisa diselesaikan dengan melaksanakan tuntunan yang benar yakni berdaasrkan kitab suci. Sedangkan teks non-Arab, seperti Indonesia lahir dari semangat nasionalismenya.

Lukisan raksasa bertajuk Negeriku Damai Hijau Merdeka ini setidaknya merupakan ungkapan dan buah pemikiran antara kisah masa lalu, spirit religi, nasionalisme, dan (mungkin pendapat ini terlalu berlebihan) menjadi karya yang penuh himbauan sosial.

Seperangkat visual telah terjabarkan. Meskipun mungkin tak seluruhnya terbahas. Lalu apa yang menjadi persoalan pada karya-karya Hendra Buana? Bila Anda cermati, justru hal penting adalah pada visualisasi gunung dan alam yang dilukis. Dari sejumlah karya lukisan lanskap Hendra terdapat sebuah persoalan dalam membuat visualisasi gunung, pohon, dan dataran. Hampir semua “trilogi” elemen pemandangan tersebut dibuat dengan pola yang sama, monoton.

Terbukti nyaris pada setiap gunung yang muncul digambarkan dengan pola bangun dasar yang sama, padahal antara Merapi di Sumatera Barat berbeda dengan Merapi di Yogyakarta. Persoalan yang sama terlihat pada tipe pohon. Pohon-pohonnya selalu ramping, dengan ranting yang pipih seperti pohon dekoratif pada gunung wayang kulit. Tak terlupakan dengan dataran yang dibuat, semuanya mengingatkan pada alam raya Ngarai Sianok yang terkenal.

Persoalan yang dialami Hendra Buana bukanlah terjadi pada dirinya. Pelukis sekaliber Leonardo da Vinci pun nyaris mengalami sindrom monoton semacam ini. Banyak peneliti yang mengungkapkan bahwa da Vinci dipengaruhi oleh masa kecilnya di Arno, sehingga ketika membuat citra lanskap hampir seluruhnya sama. Apakah ini karena ingatan atas citraan objek alam yang pernah terpatri dalam otaknya tumbuh demikian kuat, atau karena ia kurang terampil membedakan objek? Jelas bahwa Hendra Buana atau Leonardo da Vinci bukanlah tipe pelukis yang miskin akan teknik. Oleh sebab itu diperlukan pilihan konsep dan strategi teknis yang lebih akurat untuk bisa memancarkan perbedaan sekaligus persamaan dalam suatu identitas personal.

Di sinilah persoalan utama ketika memilih gaya visual realis dalam melukis.

***

Lukisan pemandangan alam Hendra Buana memang bukan narasi realitas. Namun sumbangan pemikirannya dalam bentuk karya seni lukis adalah bagian dari upaya mengekplorasi Sumatera, terutama di kawasan Agam, tempat dimana ia mengenal Sumatera. Sumatera sebagai pulau memang tak terjangkau oleh amatan indera. Sumatera hanya bisa dijangkau dengan imajinasi. Eksplorasi lingkungan, renungan atas alam dan budaya Sumatera (secara khusus Minangkabau) adalah catatan Hendra Buana yang tak hanya mengarah pada persoalan materi, namun juga imajinasi perihal spiritual, nasionalisme, dan isu apapun hari ini. Seperti pepatah klasik, alam memang disediakan tak hanya untuk dinimati secara inderawi, tetapi juga direnungkan sebagai guru. Sedangkan Sumatera adalah ilmu untuk mengenali cakrawala yang lebih luas dari sekadar ukuran geografis, mulai dari masa silam hingga masa depan, termasuk menghadirkan kembali imaji kultural yang telah dan tengah terjadi. Siapa tahu Sumatera yang kita kenal sekarang memang betul adalah pulau legendaris “dengan kualitas hidup selaksa emas” yang terus-menerus dikaji dan dilacak kehadirannya: Surga Atlantis.

Di luar itu semua, semoga saya tak salah jika menganggap Hendra Buana tengah me-reka ulang tanah leluhurnya yang kini menjadi perdebatan besar di seluruh jagat raya ini, meskipun tanpa sengaja disadarinya.

 

Peta klasik gambaran ideal “pulau” Atlantis atau “Peta Lemuria”

atau Taprobana dibuat oleh Athanasius Kircher masa Renaissance.

 

*Penulis adalah mahasiswa Pascasarjana UGM & staf pengajar Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta

Sumber Kepustakaan

  1. Daniel, Serguei, French Painting: Five Centuries of French Painting. England: Parkstone, 1996.
  2. Graves, Elizabeth E., Asal-Usul Elite Minangkabau Modern: Respons terhadap Kolonial Belanda Abad XIX/XX. Jakarta: Yayasan Obor, 2007.
  3. Katalog Pameran Akbar Lukisan Hendra Buana, Hotel Inna Garuda Yogyakarta, 2003.
  4. Katalog Pameran Lukisan Hendra Buana, Bentara Budaya Yogyakarta, 1997.
  5. Levey, Michael, A Concise History of Painting: From Giotto to Cezanne. New York: FA. Preager, 1962.
  6. Reid, Anthony, Menuju Sejarah Sumatra: Antara Indonesia dan Dunia. Jakarta: KITLV & Yayasan Obor, 2011.
  7. Santos, Arysio, Atlantis: The Lost Continent Finally Found. Jakarta: Ufuk, 2010.
  8. Scalliet, Marie-Odette, Koos van Brakel, David van Duuren, Jeantte ten Kate, Pictures from the Tropics, Painting by Western Artists during the Dutch Colonial Period in Indonesia. Amsterdam: Picture Publisher, 1999.
 
Sang Fakir dan Kalam Peradaban
Written by irfan2014   
Tuesday, 11 October 2016 04:37

Sang Fakir & Kalâm Peradaban

Pengantar Kuratorial KALAM & PERADABAN oleh Mikke Susanto

 

Kaligrafi adalah geometri spirit.

Minorsky, Calligraphers and Painters.1

 

Seorang fakir di suatu negeri bermohon kepada seorang sufi agar dia sudi menerangkan Nama Yang Paling Agung, yaitu Nama Allah yang keseratus. Karena manusia yang mengenal Nama Allah yang keseratus itu dapat membuat kejaiban-keajaiban serta mengubah perjalanan hidup dan sejarah. Tetapi tak seorang manusia pun dapat mengenal Nama itu sebelum ia menjadi patut untuk mengetahuinya.

 

Sang sufi berkata, “Sesuai dengan tradisi, bermula sekali aku harus memberimu sebuah ujian yang akan menilai kesanggupanmu. Pergilah engkau ke gerbang kota, tinggallah di sana hingga matahari terbenam, kemudian kembalilah kepadaku, dan katakanlah segala sesuatu yang telah engkau saksikan di sana.”

 

Selama sang fakir di sana dan mengalami berbagai kejadian, ia terus mencatat. Catatannya tidak saja tentang persoalan besar, umum dan adab-adab yang sering terjadi. Pikirannya juga menuai berbagai gejala hidup manusia yang hanya dialami seseorang yang sangat khusus, tentang berbagai kejadian yang butuh tenaga lebih untuk menawarnya.

 

Berbagai cerita sang fakir juga terjadi diantara kita. Berbagai berita yang menguak luka dan beban yang dialami manusia mudah ditemui sehari-hari. Lalu disela-sela terjadinya banyak bencana dan perubahan itulah para perupa memiliki peran. Di sini perupa dituntut untuk menguak dan memberi penawar luka dan beban yang terjadi pada manusia yang lain, seperti halnya sang fakir yang haus akan Asma Allah.

***

Sang fakir tentu saja bukan kaligrafer, tapi tahu bahwa kaligrafi telah dikenal sebagai sebuah kebudayaan tersendiri. Kaligrafi mendapat tempat terhormat dalam perkembangan seni Islam, termasuk yang terjadi dalam bidang arsitektur, sastra sampai ke seni iluminasi2. Kaligrafi adalah dasar dari seni perangkaian titik-titik dan garis-garis pada pelbagai bentuk dan irama yang tiada habisnya serta tidak pernah berhenti merangsang ingatan (dzikir) akan situasi hati dan tentu saja nama besar Tuhan.

 

Pameran ini merupakan sebuah tahap berikutnya dari sebuah perkembangan kaligrafi Arab di Indonesia. Sejak Festival Istiqlal II (1995) maupun Pameran Seni Rupa Kontemporer Islam (1997) sangat jarang terjadi lagi pameran kaligrafi dengan mengusung tema dan wacana yang berbeda dan komprehensif. Justru yang sering terjadi adalah pameran-pameran yang menjadikan kaligrafi hanya sebagai agenda pendukung kegiatan seperti MTQ (Musabaqoh Tilawatil Quran), fundraising masjid atau pondok pesantren, peringatan hari besar agama, dan sebagainya3. Sehingga banyak yang menganggap wacana seni kaligrafi di Indonesia saat ini mati suri, alias citra dan perkembangannya di Indonesia tak terdeteksi dengan jelas.

 

Oleh sebab itu, pameran ini secara khusus hendak mengajukan “laporan” terkini tentang berbagai perangai perupa dan karyanya. Lebih khusus lagi adalah mengkaji berbagai perbedaan dan lokalitas di sekitar kita. Hal ini diajukan karena sejak awal, kaligrafi Arab (dengan pakem tradisional maupun modern) memang telah tumbuh berbarengan dengan kebudayaan yang terjadi di Indonesia.

 

Hal ini dapat dilihat mulai dari munculnya pondok pesantren, partai-partai Islam hingga kokohnya sebuah orde pemerintahan yang membuat agama Islam berkembang pesat di segala bidang. Di dalamnya, termasuk pula dikarenakan perkembangan semangat penghayatan masyarakat terhadap Islam, baik dikaitkan sebagai agama maupun sebagai bagian dari kehidupan sosial dan budaya; pembangunan rumah sakit Islam hampir di setiap kota besar; diadakannya program bahasa arab di televisi pemerintah (1980-an); disahkannya undang-undang yang bersifat Islami, munculnya pendidikan Islam baik formal maupun nonformal dan sebagainya.

 

Agaknya, terjadinya perkembangan di segala bidang, termasuk dalam khasanah kebudayaan melahirkan banyak perbedaan. Seperti yang dicatat oleh Prof. AD. Pirous, akibat dari latar belakang etnik dan kebudayaan seniman yang berbeda-beda itulah maka terdapat pula kekayaan visi simbol yang juga berbeda. Oleh sebab itu, barangkali ini merupakan gejala munculnya makna baru dalam masyarakat modern Jawa yang oleh para seniman diterapkan ke dalam karya seni mereka4.

 

Dan dari perspektif makro yaitu dari berbagai pesan dan pokok penting perihal kaligrafi Arab yang sangat dekat dengan agama Islam, pameran ini hendak memberi ketegasan bahwa Indonesia sebagai bagian dari “kerajaan” Islam memberi sumbangan yang cukup berarti. Di samping tentu saja sejarah seni kaligrafi Islam Indonesia berbeda dengan perkembangan kaligrafi di tempat asalnya.

 

Karena, turut diakui oleh guru besar Islam Seyyed Hossein Nasr bahwa berbagai gaya kaligrafi telah dipengaruhi oleh kondisi regional sesuai dengan pemikiran jenius etnis dari dunia Islam5. Bahkan guru besar Islam Al-Faruqi menambahkan bahwa keragaman kaligrafi kontemporer Arab lebih dipengaruhi oleh pengaruh dari dunia non-Islam6. Menariknya, perbedaan tersebut juga memberi dimensi ruang yang melampaui batas-batas lingkungan kultural tertentu di dunia. Sehingga berbagai perkembangan dan keragaman gaya kaligrafi yang terjadi di berbagai wilayah seakan tetap menjadi “milik bersama”.

 

***

Perupa kaligrafi modern di Indonesia tidaklah banyak, jika dibandingkan dengan pelukis non-kaligrafi. Sedikitnya perupa kaligrafi ini disinyalir karena di Indonesia, lembaga pendidikanformalnya tidak ada (sementara ini hanya ada LEMKA-Lembaga Kaligrafi Al-Quran/Institute for Qur'anic Calligraphy & beberapa pondok pesantren yang secara khusus menyelenggarakan, sedang di perguruan tinggi seni rupa pelajaran kaligrafi cenderung mengenai sejarah tulisan secara umum, bukan hanya Arab).

 

Kedua, berkarya kaligrafi membutuhkan perhatian yang sangat besar, karena ia tidak saja hanya belajar masalah teknik, namun juga belajar untuk konsisten terhadap perilaku/ budaya dan tentu saja belajar masalah teks Arab yang sejarahnya sangat panjang. Sehingga tidak banyak yang kemudian terjun secara total di sini. Selain itu tentu saja perkara sedikitnya pewacana/ pengkaji masalah kaligrafi di Indonesia, apalagi di tengah gempuran seni global, postmodernisme dan seni pop, membuat dunia seni ini seakan tersisihkan.

Pameran ini setidaknya ingin kembali memberi semangat dan kesadaran baru bagi wacana kaligrafi yang pernah ada di Indonesia. Pertama, kesadaran wacana yang digulirkan lebih mengarah pada karya yang mempersoalkan lokalitas (ingat, isu ini juga merupakan bagian dalam pemikiran postmodern).

 

Lokalitas di sini salah satunya adalah hal-hal yang terkait dengan isu-isu, berita, kebiasaan, adat istiadat, kekayaan sumber daya, maupun kebudayaan yang terdapat di sekitar perupa hidup. Kontekstualitas di sini sangat dibutuhkan. Kesadaran atas peristiwa dan sensibilitas ruang sangat diperlukan. Hal inilah yang nantinya sangat berarti untuk membedakan atau bahkan memperlihatkan gejala yang luar biasa berbeda jika dikaitkan dengan kaligrafi yang berkembang dimana pun.

 

Kedua, luasnya kesadaran materi dalam berkarya. Selain lukisan, pameran ini juga menghadirkan karya tiga dimensi berbahan keramik, batu, besi, dan sebagainya. Secara khusus pameran ini mempersembahkan kompleksitas media atau materi serta tidak sekadar bersifat eksperimentasi dan pesonaIndividualisme. Sifat eksperimentasi media pun tetap harus disesuaikan dengan perilaku lokal dan teks yang dihadirkan. Di sisi lain, persoalan bahan bertujuan untuk memberi kejutan dan “hiburan” bagi penonton. Ukuran karya yang besar, tingkat kerumitan teknik, jenis bahan yang dipakai banyak mengalami dematerialisasi karena terkait dengan konteks dan konsep pameran.

 

Ketiga, hadirnya kesadaran sosial perupa kaligrafi dalam melihat dunia manusia itu sendiri. Selama ini di Indonesia, kaligrafi Arab/Islam dianggap kurang menyentuh hal-hal yang ada dalam realitas publik. Karya-karya yang dihasilkan lebih mengarah pada aspek hubungan vertikal antara manusia (perupa atau penonton) dengan Allah (hablumninallah). Atau yang paling sering adalah munculnya teks-teks kaligrafi tentang kesadaran manusia pada isu-isu agama dengan visualisasi yang sangat general. Oleh sebab itu perubahan dan dinamika pikiran tentang hubungan manusia dengan manusia (habluminannas) dalam pameran ini dipresentasikan lebih jauh. Masalah ini menjadi masalah baru bagi para perupa, karena kedekatan tema dan munculnya dimensi sosial dalam kaligrafi sering dilupakan.

 

Inilah alasan mengapa tajuk pameran ini “post-calligraphy”. Partikel “post” dalam pameran ini lebih kurang ingin mempertajam, memperluas, menyambung khasanah bahwa kajian yang terkait pada persoalan kaligrafi Arab-Islam untuk tidak semata-mata mengetengahkan persoalan agama, namun juga non-agama. Bisa jadi, pameran ini merupakan sajian yang berisi masalah sekuler, profan dan marginal. Bisa pula mengetengahkan huruf Arab yang tak berarti apa-apa (karena sejatinya huruf harus diberlakukan sebagai huruf, alias pemurnian kembali fungsi huruf).

 

Perlu dicatat, bahwa sebagian besar masyarakat di Indonesia selama ini masih menganggap huruf Arab itu sakral, sehingga untuk memperlakukannya dalam berbagai ranah fungsi dan kajian seni misalnya, si pemakai haruslah sangat berhati-hati. Singkatnya, pameran ini berusaha “keluar” dan membuka kran kebiasaan yang selama ini muncul yaitu masalah spiritual, yang dianggap terlalu elite.

 

Partikel “post” ini juga memberi peluang lebih luas atas berbagai bahan kajian yang selama ini dicap terlalu sering dipakai sebagaisubject matter karya kaligrafi, yaitu Al Quran. Hal ini mengingat saya atas munculnya banyak kritik terhadap para kaligrafer tentang “kapitalisasi” ayat suci. Artinya, pameran ini memberi keleluasaan atas kekayaan lokal maupun individu sebagi tema karya. Maka muncullah pelajaran berharga mengenai:

  1. Satra lokal (lihat beberapa karya AD. Pirous yang mengemukakan tentang karya sastra Hamzah Fansuri, atau hadist mengenai ajakan belajar. Khusus dalam pameran ini karya Zawawi Imron berbau tradisi lokal dengan memanfaatkan wayang, karya Salamun Kaulam mengeksplorasi dengan sangat menarik Serat Ronggowarsito yang terkenal itu: Zaman Edan, dan karya Nasirun yang mengusung tembang tauhid Jawa).
  2. Kasus dan bencana lokal (lihat karya Anwar Sanusi tentang pantun atau parikan yang berisi kejadian penembakan aparat pada warga di wilayahnya Alastlogo Jawa Timur baru-baru ini, atau karya Syaiful Adnan, Sunaryo, Hendra Buana, Yetmon Emier, Chusnul Hadi, Is Hendri Zaidun yang menguak masalah lumpur Lapindo dan gempa).
  3. Sejarah dan politik (Arahmaiani yang sangat kuat berdimensi politik multi-nasional).
  4. Gaya hidup masa kini, adat-istiadat dan kebiasaan masyarakat setempat (Mustafa Bisri, Robert Nasrullah, Zulkarnaini, atau karya Ismanto tentang isu pengangguran di desanya).
  5. Dominasi wilayah privat, yang melukiskan berbagai kesan meluapnya 'indoktrinasi' ataupun pesan tentang dominasi wilayah pribadi oleh ideologi maupun 'agama' yang sangat kuat (karya Titarubi dan Pramono Irianto).
  6. Kajian materi teks itu sendiri yaitu pengolahan huruf secara sangat khusus & mungkin terkesan bombastis (seperti dipadu dengan huruf non-Arab, diperbesar, mengumbar warna latar yang terang-“seronok” atau teks-teks yang diulang sesering mungkin), misalnya pada karya AD.Pirous, Tulus Warsito, Ismanto, Alperd Roza, Meri Suska, Nasrul dan Rispul.

 

Inilah sebuah lintas batas pemikiran/pengucapan (kalám)7 berupa teks indah yang berisi isu peradaban yang menggejala saat ini. Di sini, seni kaligrafi Arab tidak saja berhenti pada suatu dimensi, misalnya ketuhanan, tapi juga memberi rangsangan untuk melihat berbagai hal secara lebih dekat. Kaligrafi tidak sekadar ruang meditasi-transendental, namun juga berkembang sebagai ruang pembelajaran berbagai hal yang sedang menggurita.

 

Kaligrafi tidak saja hanya sebagai 'keterampilan' pasif (sebagai ujud kepasrahan atas situasi dan kondisi), namun ia juga bisa menjadi alat 'perang' untuk kehidupan yang lebih baik. Dan kaligrafer sendiri bukan lagi hanya berada di belakang medan perang untuk mencatat dan menghibur, tetapi kini ia juga sebagai pasukan berani mati menemukan dan menaungi mereka yang tersisih. Ia tidak sekadar berceramah mengenai agama, tetapi secara estetis terus-menerus menyampaikan berbagai berita dan derita manusia. Pameran ini adalah bongkahan pengalaman orang per orang mengenai peradaban yang dihadapinya.

 

Sang fakir terus berfikir. Selama ini ia merasa bahwa “karya”-nya lebih pada persoalan dirinya sendiri. Ia mengenal Tuhan dan nama-namanya hanya dari pengajian yang diajarkan oleh para guru. Ia kurang tahu mengapa jika kemudian keinginannya mengenal nama Tuhan yang keseratus begitu kuat. Ia terus memperhatikan orang lain.

***

“Sebagaimana yang engkau suruh, aku telah menempatkan diriku di gerbang kota dalam keadaan yang penuh awas. Peristiwa yang paling mengesankan di sepanjang hari adalah mengenai seorang tua yang ingin masuk ke dalam kota sambil memikul kayu api yang sangat banyak. Penjaga gerbang mendesak agar ia membayar pajak sesuai dengan nilai barang yang dibawanya. Karena tidak mempunyai uang barang sesenpun maka orang tua itu bermohon agar dia diijinkan menjual kayu apinya terlebih dahulu. Setelah menyadari bahwa orang tua itu tidak mempunyai sahabat dan tidak berdaya, maka penjaga gerbang memaksanya untuk menyerahkan semua kayu yang dibawanya. Kemudian kayu-kayu itu diambil oleh si penjaga gerbang untuk dirinya sendiri, sedang orang tua tersebut diusir pergi dengan pukulan-pukulan yang keras.

 

Sang sufi bertanya, “Bagaimanakah perasaanmu ketika menyaksikan peristiwa itu?”

Si fakir menjawab, “Semakin berkobarlah keinginanku untuk mengetahui Nama Yang Paling Agung. Seandainya aku telah mengetahui Nama itu, niscaya bencana itu tidak akan menimpa si penebang kayu yang malang dan tak bersalah.”

 

Sang sufi berkata, “Wahai manusia yang ditakdirkan untuk mencapai Kebahagiaan! Aku sendiri mendapatkan Nama Allah Yang Keseratus dari Guruku setelah ia menguji keteguhan hatiku dan menentukan apakah aku seorang emosional yang menurutkan gejolak hati atau seorang pengabdi umat manusia, dan setelah ia memaksaku untuk menghadapi berbagai pengalaman yang membuatku sanggup melihat pikiran-pikiran dan tingkah lakuku sendiri.”

 

“Nama Allah Yang Keseratus adalah pengabdian seumur hidup kepada semua umat manusia. Guruku itu tidak lain adalah penebang kayu yang telah engkau saksikan siang tadi di gerbang kota.”8

Wallahualam bisawab.

 

Jogja-Jakarta, Juni 2007

 

Catatan kaki

1. V. Minorsky, Calligraphers and Painters, Washington DC., 1959, hlm. 21. Minorsky lebih mengemukakan bahwa pemaknaan 'spirit' kaligrafi Islam adalah pengejawantahan visual dari kristalisasi realitas spiritual yang terkandung dalam wahyu Islam atau 'pakaian terluar' untuk Firman Ilahi di alam nyata, namun bagi saya 'spirit' juga dimaknai dengan berbagai hal yang mengandung kemungkinan untuk mengajak manusia melihat dan sadar akan lingkungan sekitarnya.

 

2. Iluminasi (illuminated manuscripts) merupakan seni buku yang ditulis dengan tangan, dihias dengan berbagai jenis lukisan dan ornamentasi. Kata 'illumniated' berasal dari bahasa Latin 'illuminare' yang berhubungan dengan jenis prosa, dimana berarti 'menghiasi/memperindah' (adorn). Adapun jenis hiasannya ada tiga tipe: 1. miniatures atau lukisan kecil, tidak selalu ilustratif, bisa berupa gambar teks; 2. initial letters; 3. batas atau borders, biasanya berisi motif pola hias.

 

3. Namun pameran lain yang bernafaskan kaligrafi Arab bukan tidak ada. Meskipun tidak diberi tajuk pameran kaligrafi, Arahmaiani justru menggelar pameran teks-teks Arab berjudul “Stitching the Wound Menjahit Luka” (23 Juni-30 September 2006) di The Art Centre, The Jim Thomson House Bangkok Thailand. Di sini Arahmaiani membuat karya patung yang digantung berbahan kain dan kapas dengan membuat bantal berbentuk huruf Arab, serta membuat teks kaligrafi Arab berbahan biskuit. Pameran ini sendiri merupakan hasil residensinya ketika beberapa waktu berada di minoritas muslim Ban Khrua Nuea di Bangkok.

 

4. AD. Pirous, “Seni Bernafaskan Islam di Indonesia: Kajian Khusus Seni Rupa Masa Kini dalam Perspektif Seniman Muslim”, Menulis itu Melukis, Bandung, Penerbit ITB, 2003.

 

5. Seyyed Hossein Nasr, Spiritualitas dan Seni Islam, terj. Sutejo, Cetakan Kedua, Bandung, Mizan, 1993, hlm. 38.

 

6. Isma'il R. Al-Faruqi & Lois Lamya Al-Faruqi, Atlas Budaya Islam, Menjelajah Khazanah Peradaban Gemilang,  terj. Ilyas Hasan, cetakan III, Bandung, Mizan, 2001, hal. 402.

 

7. Kalâm (secara harfiah “kata” atau “bicara” dan merujuk pada orasi) adalah nama yang diberikan kaum muslimin untuk disiplin yang mengkaji berbagai isu. Orang yang mengerjakan disebut Mutakallim (tunggal), Mutakallimun (jamak). Tak ada kata yang lebih pas. Khutbah, orasi, pidato, merupakan sarana utama untuk mengajar, berdebat, propaganda, atau sekadar menyampaikan informasi. Kendatipun tulisan sering dipakai, namun belum menjadi hal utama. Ibid, hal. 315. Sedang Kalâm (Qalam) menurut Nasr, berarti 'pena', yang memungkinkan tangan manusia menulis dan kaligrafi yang tertera di atas kertas atau kulit itu merupakan bayangan dari Kaligrafi Tuhan yang menulis realitas segala sesuatu di atas lembaran-lembaran kitab alam semesta, meninggalkan jejak pada semua makhluk yang memantulkan sumber samawi eksistensial mereka.

 

8. Cerita ini didasari dari Idries Shah, Hikmah Dari Timur, terjemahan Anas Mahyuddin, Cetakan I, Bandung, Penerbit Pustaka-Perpustakaan Salman ITB, 1982, hal. 11-13. Terima kasih untuk Mas Anis Sholeh Ba'asyin di Pati yang mempertemukan saya dengan cerita ini.

 
MENAKAR TERMINOLOGI KONTEMPORER BERKALIGRAFI
Written by irfan2014   
Saturday, 03 September 2016 17:13

MENAKAR TERMINOLOGI KONTEMPORER BERKALIGRAFI

Oleh Irfan Ali Nasrudin, S.H.I al- Khattath

Seni tak hidup tanpa sentuhan manusia, bayangkan jika hidup tanpa seni, tanpa hiburan, tanpa rasa, hidup hanya akan terasa datar saja tanpa inovasi rasa dan tentu ini menjemukan. Beda kalau beragama maka bukan melulu persoalan rasa, tapi faith (naluri kepercayaan) yang mengkristal kemudian diikuti rasa yang melahirkan semangat pengabdian kepada Tuhan yang diyakininya (baik agama samawi maupun agama ardhi).

Seni adalah peradaban manusia yang lahir dari proses dinamik nan kreatif yang mengkomparasikan sains, sense, herritage dan craftmanship. Umat Islam dengan semangat sains Al-Qur'annya seolah menemukan momentum untuk mengolah rasa (sense) dengan menjunjung tulisan Al-Qur'an yang beraksara huruf Arab untuk menjadi instrumen kreativitas diawal2 perkembangan yang kemudian dikenal dengan seni kaligrafi, seni ini pun dijadikan sebagai herritage (pusaka) nya seni rupa umat Islam. Dalam sejarah yang cukup panjang dari proses pengolahan bentuk anatomi huruf dari generasi ke generasi secara temurun, kaligrafi mengalami dualisme aliran; pertama aliran kaidah murni yang lahir melalui sentuhan piawai tangan seniman muslim semacam khat kufi, naskhi, tsulus, diwani, diwani jali, riq'ah, farisi, nasta'liq, raihani, muhaqqaq, ijazah, maghribi dan lain2 yang diawal2 perkembangan sempat mencapai 400 aliran khat. Kedua aliran ekspresi bebas tanpa mengikuti kaidah murni sesuai dengan imajinasi penulisnya atau pelukisnya. Kemudian diera global ini muncullah istilah kontemporer dalam dunia seni, termasuk kaligrafi. Kontemporer muncul sebagai dampak modernisasi yang kemudian melahirkan istilah Contemporary Art berkembang di Barat digunakan dalam produk seni sejak Perang Dunia II. Praktek kontemporer dimulai ketika terjadi peleburan batasan-batasan seni yang sudah profan dan memiliki karakter kuat dalam kesejarahan dan kontinuitas pengamalan antar generasi semisal kaligrafi murni. Eksistensi kaligrafi murni kuat karena dilahirkan oleh satu seniman kemudian diteruskan, dikembangkan dan disempurnakan oleh muridnya dan muridnya lagi seterusnya hingga mengalami kesempurnaan bentuk baku khat yang kita kenal saat ini.

Nah kontemporer itu apa sih? Kontemporer kan mencari sesuatu yang baru atau kekinian, sesuatu yang berbeda dan bebas dari sebelumnya karena mungkin jenuh dengan pakem yang telah biasa dan hanya itu-itu saja, mudahnya kontemporer adalah mendobrak kemapanan yang telah ada dan berinovasi secara lebih progresif kepada sesuatu yang lebih fresh dan baru. Kaligrafi murni sebetulnya sudah mengalami kontemporer sejak zaman klasik, ditandai makin rumitnya model dan variasi, dulu khat tsulus hanya biasa saja model baris dengan tazin sederhana, lalu maestro kaligrafi Mustafa Raqim menginisiasi gebrakan tsulus menjadi lebih dinamis penuh inovasi dengan model komposisi menumpuk bahkan sampai model berbalikan (ma'kus) sehingga lahirlah Jali Tsulus. Begitu juga Diwani yang semula biasa lurus2 saja tanpa harakat dan hiasan tazin, lalu oleh maestro kaligrafi Hafidz Usman diinisiasi menjadi rumit dan menumpuk, maka lahirlah Jali Diwani. Begitulah, kaligrafi juga mengalami modernisasi pada zaman klasik seperti penghilangan kepala tsulus (Tarwish) oleh pelukis kaligrafi tempo dulu, ini juga bisa dimaknai kontemporer dalam konsep yang sederhana.

Di Indonesia pun, khalayak seni rupa mencatat di awal tahun 1970-an, ketika Gregorius Sidharta memberi judul pamerannya seni patung kontemporer. Berangkat akan ketidaksetujuan pameran besar seni lukis Indonesia yang diadakan Dewan Kesenian Jakarta di Taman Ismail Marzuki tahun  1974, sejumlah perupa muda protes dengan mengirimkan karangan bunga sebagai tanda matinya seni rupa Indonesia yang dikenal dengan peristiwa Desember Hitam. Setahun kemudian para perupa muda melakukan pameran di Taman Ismail Marzuki dengan tajuk pameran seni rupa baru (kontemporer). Kaligrafi pun turut mengalami euforia di zaman seni rupa kontemporer tersebut, yang diinisiasi oleh 4 lokomotif pelukis kaligrafi Indonesia diantaranya Ahmad Sadali, AD. Pirous, Amang Rahman, Amri Yahya. Generasi berikutnya muncullah Saiful Adnan, Hatta Hambali, Said Akram, Abay Subarna dan lainnya yang turut menggebrak dan memberikan warna baru bagi perkembangan kaligrafi kontemporer Indonesia. Para pelukis kaligrafi kontemporer ini lahir dari embrio Akademi Seni Rupa yang enggan mempelajari kaidah baku kaligrafi murni, bagi mereka kaidah baku itu "memperkosa kreatifitas" seni dengan produk klasik yang stagnan. Seni adalah kebebasan berekspresi tanpa dikekang. Lalu meletuplah semangat mereka dengan memunculkan eksistensinya secara terbuka mengadakan pameran kaligrafi lukis kontemporer perdana pada MTQ Nasional tahun 1979 di Semarang.

Kini, dalam MTQ lahir golongan baru dari cabang khat al-Qur'an yaitu kaligrafi kontemporer selain tiga golongan yang sudah ada yaitu naskah, hiasan mushaf, dekorasi. Puncaknya dalam MTQ Nasional NTB kemarin lomba kaligrafi kontemporer menunjukkan tajinya. Diluar dugaan lomba golongan baru ini menyisakan kontroversi, ditandai dengan penjurian yang memenangkan karya tidak memenuhi standar disiplin seni rupa kontemporer sehingga mengakibatkan protes dari para peserta dan pembina. Kriteria penilaian hanya menuruti selera juri yang senang dengan model2 flora dan warna2 alam layaknya dunia pastel anak2. Sungguh ironi, seni rupa kontemporer hanya dinilai sedangkal itu, padahal proses berseni rupa itu panjang dan rumit sepanjang juga proses kaligrafi murni yang mengalami fase kehalusan secara periodik dari satu generasi ke generasi berikutnya. Untuk mendapatkan karya yang masterpiece dan memiliki keunikan perlu melakukan eksplorasi teknik dan bentuk secara berkesinambungan agar dinilai berbeda dan melahirkan unsur kebaruan misalnya kaligrafi kontemporer yang diramu oleh Saiful Adnan, ia melakukan model pencarian itu tidak hanya satu dua hari, tapi bertahun-tahun dengan melakukan "meditasi" seni dan tidak terpikat dengan seni rupa umum yang melukis anatomi bentuk manusia, hewan atau benda, tapi ingin lebih pada aspek universalitas keindahan gaya dan bentuk huruf kaligrafi Arab yang berbeda, maka ketemulah Mazhab Saifuli yang sekarang banyak ditiru oleh pelukis kaligrafi setelahnya. Ini tidak mudah, teknik memerlukan proses dan tidak instan. Dalam seni rupa tolok ukur keindahan lukisan dinilai dari aspek warna (yang dalam disiplin ilmu seni rupa dikenal istilah pengenalan Nirmana/tata kelola pewarnaan), lalu garis, bidang dan tekstur yang menjadi varian untuk melengkapi unsur pewarnaan, semua aspek itu kemudian dikorelasikan dengan ide gagasan dalam penciptaan karya seni rupa. Dalam kaligrafi lukis pun ada pula yang memunculkan ide penggabungan antara unsur kaligrafi yang dibuat ekspresif dengan unsur makhluk hidup atau benda tetapi dibuat kamunflase atau tidak utuh, tema karya pun menjadi kaligrafi figural misalnya bentuk anatomi manusia yang sedang duduk tahiyat tetapi materinya tulisan lafadz syahadat, atau tulisan arab tetapi disela-selanya dimasuki unsur bagian anggota gambar hewan atau benda. Ini menurut para pelukis sah-sah saja, karena bagian dari kebebasan ekspresi, bukan melukis untuk dipuja atau disembah. Zaman sudah bergeser dan berubah. Inilah salah satu alasan kenapa dahulu melukis makhluk bernyawa diharamkan, karena melukis atau membuat patung setelah jadi karya lalu disembah.

Nah, istilah penamaan kontemporer dalam golongan baru lomba kaligrafi di MTQ ini pun terasa kurang proporsional, karena kontemporer sifatnya umum, seni apapun bisa dinamai kontemporer kalau sudah dimodernisasi. Lebih tepat kalau dinamai kaligrafi lukis saja, untuk membedakan dengan golongan kaligrafi murni yang mencakup tiga golongan (naskah, hiasan mushaf dan dekorasi).

Dari permasalahan lomba kaligrafi lukis kontemporer ini, agaknya perlu melakukan revitalisasi dewan juri dengan perubahan2 sistem dan mencari sosok juri yang lebih menguasai teknik lukis seni rupa. Juri golongan kaligrafi lukis ini harus dari unsur pelukis profesional dan sebaiknya dirahasiakan inisialnya, tidak boleh melakukan pembinaan keliling daerah agar netralitas penjurian terjaga. Sebaliknya yang menjadi pembina keliling daerah kabupaten/provinsi tidak boleh menjadi dewan hakim. Lomba kaligrafi di Indonesia memang unik, ketika juri melakukan pembinaan keliling daerah maka itu disinyalir akan memiliki kecenderungan dengan peserta yang dibina dan rentan SKSD (sok kenal sok dekat). Lain di Indonesia lain di Turki yang jadi tempat perlombaan kaligrafi Internasional IRCICA setiap 3 tahun sekali, penjurian kaligrafi amat berbeda, kalau sudah masuk wilayah waktu lomba, maka guru akan memberi warning agar jangan mendekati guru yang mendidiknya, kalau ketahuan akan dikeluarkan dari perguruan kaligrafi. Bahkan karya lomba yang sedang dikoreksi oleh dewan juri pun dicek dengan sangat teliti, terdapat satu titik saja dipojok kertas dan diketahui juri, maka karya tersebut akan didiskualifikasi (disingkirkan), karena dianggap sebagai karya titipan oleh juri A juri B dan lainnya. Betul-betul netral.

Bagaimana dengan fakta penjurian kaligrafi di Indonesia? Yang memiliki harapan besar menang ya yang dikenal dan dekat dengan juri. Sungguh naif, jangan sampai karena hal ini, perkembangan seni rupa kaligrafi lukis di Indonesia terganggu. Jangan sampai ada karangan bunga sebagai simbol matinya kaligrafi kontemporer yang sedang digelorakan ini melalui media MTQ hanya karena faktor dewan hakim yang kurang kredibel dan sistem yang mengaburkan kriteria. Ke depan harus ada perbaikan nyata agar gelora ini menjadi nilai yang positif untuk lebih membumikan kaligrafi di masyarakat dengan berbagai approach (pendekatan) multikultural seni. Kasihan anak-anak muda yang masih semangat belajar dan menempa diri. Memang belajar kaligrafi harus dimulai dari niat, bahwa niat yang utama adalah menguasai kaligrafi untuk sarana mendekatkan diri kepada Allah, berdakwah dengan seni, bukan semata-mata untuk menjadi pemenang lomba apalagi pecundang yang mengebiri asa para peserta lomba, karena ke depan para peserta itu nanti juga akan menjadi posisi yang menggantikan dewan juri saat ini. Jangan sampai mereka juga melakukan hal yang sama kepada generasi anak cucu kita nanti yang akan ditakdirkan menjadi peserta lomba MTQ cabang kaligrafi pada masa-masa mendatang.

_______________________________________________

Artikel ini saya kembangkan dari hasil dialog kaligrafi pada Pameran Kaligrafi Nasional bertajuk ISTIQLAL di galeri UIN SUKA tanggal 30 Agustus 2016 pukul 13.30 sampai 16.00 WIB.

Dialog dihadiri oleh Dr. Abdul Aziz Ahmad (Kepala Prodi Jurusan Seni dan Desain Universitas Negeri Makasar), Drs. Saiful Adnan (Pelukis Kaligrafi Kontemporer Mazhab Saifuli), H. Robet Nasrullah (Pelukis Kaligrafi Kontemporer dan Imam Besar Masjid UIN Sunan Kalijaga) dan Ust. Athoillah (Pimpinan Lembaga Kaligrafi SAKAL Jombang Jawa Timur).

Semoga bermanfaat.

Last Updated on Saturday, 03 September 2016 17:22
 
islamkaligrafi.com

 

 

 

 

Kontak Kami

Pimpinan : Irfan Ali Nasrudin, S.H.I

Email : hilyatulqalam@gmail.com | Website : www.islamkaligrafi.com

Sekretariat : Jl. Raya Solo-Sragen km 9.5, Kasak Rt.04/01, Sroyo, Jaten, Karanganyar, Solo, Jawa Tengah, Indonesia 57771

Kontak : 081578770302 , 085327894104. PIN BB 5BBFDDE1

Pelayanan jasa dan penawaran barang meliputi pembuatan kaligrafi dekorasi interior masjid, kaligrafi relief timbul, kaligrafi stainless, kaligrafi kuningan, kaligrafi lukis dan kaligrafi cinderamata.