Tinjauan Singkat Sejarah Mushaf Al-Qur'an di Indonesia PDF  | Print |  E-mail
Written by irfan   
Tuesday, 21 June 2011 13:03

Perjalanan tampilan Al-Qur’an tidak terlepas dari perkembangan kaligrafi dan bentuk seni rupa seperti arsitektur masjid, madrasah, serta seni iluminasi Al-Qur’an. Pemilihan kaum muslimin dalam mengembangkan kaligrafi antara lain ditopang oleh alasan bahwa aksara Arab adalah aksara pertama yang berjasa mengemban misi penulisan kitab suci Al-Qur’an. Di samping itu aksara Arab dipandang sebagai aksara pemersatu kaum muslimin sedunia, semua sendi agama Islam yang paling fundamental tetap menggunakan bahasa Arab. Sebagai kreativitas, kaum muslimin cukup intens bergelut dengan kaligrafinya dengan rumus-rumus yang bersifat resmi dan mengikat.

Latar belakang dan permasalahan penulisan Al-Qur’an telah dimulai sejak wahyu pertama turun kepada Rasulullah saw, meskipun pada waktu itu belum dihimpun dalam bentuk sebuah kitab. Pada awalnya penulisan Al-Qur’an diterapkan pada pelepah kurma, kulit, tulang atau lempengan batu sebelum ditulis dan dikumpulkan serta dijilid rapi dalam satu kitab yang dinamakan mushaf.

Seni mushaf mulai berkembang pada abad ke-9 di Kufah dan Baghdad. Perkembangan ini sebagai kemajuan yang pernah dicapai kaum muslimin pada bidang seni kaligrafi yang dimulai pada abad ke-7. Saat itu sebagai sahabat Nabi, Zaid bin Sabit menulis wahyu atas perintah Nabi dan dikompilasi serta dikodifikasi dalam satu mushaf pada masa Khalifah Usman bin Affan (tahun 650 M). Pada masa Khalifah Usman dibentuk panitia yang terdiri dari Zaid bin Sabit sebagai ketua, Abdullah bin Zubair, Sa’id bin As, Abdurrahman bin Haris bin Hisyam, masing-masing sebagai anggota. Tugas panitia ini adalah membukukan Al-Qur’an yaitu menyalin lembaran-lermbaran Al-Qur’an yang diambil dari Hafsah binti Umar menjadi mushaf. Dalam pelaksanaan tugas ini khalifah Usman menasehatkan :

  1. Dalam penulisan Al-Qur’an supaya mengambil keputusan berdasarkan bacaan para penghafal Al-Qur’an (huffadz).
  2. Kalau terdapat perbedaan antara mereka mengenai bacaan, haruslah dituliskan menurut dialek suku Quraisy sebab Al-Qur’an diturunkan menurut dialek mereka.

Setelah tugas itu selesai dikerjakan oleh panitia, lembaran-lembaran Al-Qur’an yang dipinjam dari Hafsah itu dikembalikan. Al-Qur’an yang telah dibukukan itu diberi nama Al-Mushaf dan oleh panitia ditulis beberapa mushaf. Empat salinan pertama mushaf yang dikirim ke beberapa wilayah Islam seperti Mekkah, Syiria, Basrah dan Kufah agar ditempat-tempat tersebut disalin pula dan selebihnya ditinggalkan di Madinah untuk Khalifah Usman sendiri. Itulah yang diberi nama Mushaf Al-Imam dan selanjutnya menjadi naskah baku bagi penyalinan Al-Quran yang disebut Rasm Usmani. Sesudah itu Khalifah Usman memerintahkan mengumpulkan semua lembaran Al-Qur’an yang ditulis sebelum itu untuk dibakar. Mushaf yang ditulis di zaman Khalifah Usman ditulis pula oleh kaum muslimin berdasarkan Mushaf Al-Imam (yang di Madinah) dan mushaf-mushaf yang di Mekkah, Syria, Basrah dan Kufah. Sejak itulah kegiatan penyalinan Al-Quran tidak pernah terhenti. Penulisan Al-Qur’an pada zaman Khalifah Usman disebut periode pertama. Sedangkan periode kedua, penulisan Al-Qur’an barulah dibubuhi titik-titik yang dalam hal ini dipelopori oleh Abu Al-Aswad Ad-Duali pada zaman Khalifah Marwan bin Hakam. Dalam periode ketiga, penulisan Al-Qur’an barulah dibubuhi syakal (harakat) yang dipelopori oleh Hajjaj bin Yusuf. Dalam periode keempat barulah ditambahkan tanda-tanda waqaf, marka’ dan lain-lain.

Mula-mula Al-Qur’an ditulis dalam gaya Kufi yang berkarakter kaku, kemudian berkembang ke dalam gaya kursif Naskhi yang cenderung lentur berkat lahirnya beberapa kaligrafer besar, seperti Ibnu Muqlah yang hidup menjelang pertengahan abad ke-10 pada masa dinasti Abbasiyah (750-1258 M). Ibnu Muqlah sebagai seorang jenius dan dikenal sebagai imam khattatin (bapak kaligrafer) membuat kaidah proporsi (sistem) kaligrafi utama yang enam (Al-Aqlam Al-Sittah) : Naskhi, Tsulus, Raihani, Muhaqqaq Tawqi’, dan Riq’ah. Penerus Ibnu Muqlah adalah Ibnu Bawwab di Baghdad (w. 1022 M) yang telah menulis mushaf indah sebanyak 64 buah. Kemudian seorang jenius lain adalah Yaqut Al-Musta’shimi (w.1298) yang disebutkan dalam sejarah sebagai yang memberikan keindahan tiada tara semasanya pada bidang kaligrafi, sehingga ia diberi gelar sebagai raja (sultan) nya para kaligrafer. Ketiga tokoh ini berasal dari Irak. Sedangkan di Mesopotamia iluminasi (seni hias) Islam berkembang pada abad ke-12 dan ke-13 dibawah kekuasaan Saljuk Turki. Kontribusi Turki pada zaman ini menekankan pada kaligrafi yang lebih dekoratif menggunakan hiasan geometris dan dipengaruhi kebiasaan Byzantium dalam mempergunakan tulisan tinta emas diatas warna biru. Warna-warna emas dan perak menimbulkan daya pikat yang luar biasa. Bahkan warna-warna lain seperti hijau, merah, kuning juga ikut memberikan nuansa lebih bagi wajah kaligrafi mushaf. Tidak hanya sampai di situ saja, sistem pewarnaan yang diiringi bentuk-bentuk ornamen bunga, tangkai dan daun ikut merembet kepada bagian-bagian nama atau nomor surah. Kata-kata Allah sering ditulis dengan tinta merah, untuk membedakannya dari kata-kata dan huruf-huruf lain yang biasanya berwarna hitam, demi menimbulkan kesan agung. Ekpresi estetis seni kaligrafi pada mushaf-mushaf tersebut sama keadaannya dengan yang melekat pada dinding-dinding masjid dan bangunan-bangunan lain. Maka tidak mengherankan jika keadaan demikian sekali-sekali telah menimbulkan kesan berlebihan. Terutama pada masa awal Islam, penulisan Al-Qur’an dengan tinta emas telah menjadi bahan perdebatan pada beberapa kalangan. Hal ini wajar karena ada kekhawatiran jika pada suatu ketika orang hanya lebih suka mendewakan keindahan tulisan atau sampul mushaf Al-Qur’an daripada mengamalkan isinya. Namun sebaliknya, hal tersebut juga malah bisa menimbulkan semangat cinta kepada Al-Qur’an dan tentu saja hal itu justru lebih bagus. Apalagi jika dihubungkan dengan hadis Nabi saw bahwa “Allah itu Maha Indah, menyukai keindahan,” maka usaha mempercantik wajah mushaf Al-Qur’an merupakan suatu keniscayaan. Sebagaimana ahli sejarah Ibnu Khaldun mengungkapkan bahwa hal itu tidak bisa dibendung karena menyangkut harkat dan kebesaran negara serta untuk mengikuti kemajuan zaman.

Penulisan mushaf Al-Qur’an terus berlangsung di seluruh wilayah Islam, sejalan dengan penaklukan-penaklukan wilayah baru. Banyak pula raja-raja Islam memprakarsai dan menulis mushaf Al-Qur’an dengan tangannya sendiri untuk berbuat amal yang dipandang terbaik dan besar pahalanya. Seni mushaf yang mencapai puncak kejayaannya pada abad ke-14 dan 16 di Mesir pada masa dinasti Mamluk, Irak, Turki dan negeri-negeri Maghribi termasuk Andalusia. Sejak penghujung abad ke-16 hingga abad ke-20 pada masa dinasti Safawiyyah di Persia sempat memudar kejayaannya bahkan terlupakan.

Untuk meneruskan jejak para ahli dan empu kaligrafi pada masa lalu, di nusantara terdapat mushaf-mushaf kuno yang telah ditulis dan diiluminasi oleh ulama dan orang-orang sholeh atas perintah para raja yang keberadaannya hampir dijumpai di setiap kerajaan dan kesultanan Islam di nusantara, mushaf-mushaf itu diperkirakan telah berusia antara seratus sampai empat ratus tahun dan menunjukkan kekayaan iluminasi dengan cita rasa tinggi pada zamannya. Sepanjang yang diketahui, di Indonesia penulisan mushaf Al-Qur’an telah dimulai sejak empat abad yang lalu. Berbeda dengan mushaf di negara Islam lainnya, tradisi penulisan mushaf Al-Qur’an di Indonesia lebih mengedepankan seni hias khas Indonesia dan toleransi Islam terhadap kebudayaan setempat. Ini bisa dilihat dari seni mushaf yang terserak di berbagai daerah, seperti Mushaf Syaikh Abdul Wahab dari Aceh, Mushaf Syaikh Nawawi Al-Bantani dari Banten, Mushaf Syaikh Muhamad Arsyad al-Banjari dari Kalimantan Selatan dan Mushaf Diponegoro dari Jawa Tengah.

Ada satu catatan bahwa mushaf tertua ditulis oleh seorang ulama al-Faqih al-‘Ali ‘Afifuddin Abdul Baqi bin ‘Abdullah al-‘Adni, bertahun 1585 M, tepatnya 7 Zulqaidah 1005 H, di Wapanwe, Kaitetu, Ambon. Lima tahun kemudian (tahun 1590 M), seorang gadis bernama Nur Cahya menyelesaikan penulisan mushaf di Pegunungan Wawane, Ambon. Berdasarkan naskah mushaf tersebut, diperkirakan bahwa abad ke-16 merupakan awal pertumbuhan penulisan mushaf Al-Qur’an di Indonesia. Tidak tertutup kemungkinan ulama-ulama di berbagai tempat lain di Indonesia juga melakukan hal yang sama, karena beberapa naskah Al-Qur’an kuno juga dijumpai di Jawa, Sumatra, Sulawesi, Kalimantan, Nusa Tenggara Barat, Bali, dan sebagainya. Motivasi yang mendorong umat Islam melakukan penyalinan Mushaf adalah untuk dakwah dan semangat mengajarkan Al-Qur’an. Pada masa itu belum ada teknologi yang dapat menggandakan Al-Qur’an secara massal untuk disebarkan kepada umat Islam. Tetapi, pada penghujung abad ke-19 M minat penulisan mushaf Al-Qur’an di Indonesia semakin berkurang. Bahkan, menurut pakar iluminasi Al-Qur’an, Mahmud Buchari (1999:3), pembuatan seni mushaf di Nusantara mulai terhenti sejak abad ke-19. Kenyataan itu mungkin sebagai akibat dari penjajahan Belanda yang berkepanjangan, dan ditambah dengan penemuan teknologi percetakan yang semakin canggih yang dapat memproduksi mushaf secara cepat dalam jumlah banyak.

Pesantren yang merupakan pusat pendidikan Islam tradisional, sejak berabad-abad lalu juga diduga memegang peranan penting dalam penulisan Al-Qur’an, seperti mushaf yang ada di Pesantren Buntet, Cirebon (bertarikh 1840 M). Pihak lain yang merupakan sponsor penulisan mushaf adalah elite sosial, yaitu mereka yang sejahtera secara sosial-ekonomi. Ini terjadi pada zaman dahulu dan sekarang. Termasuk dalam kelompok ini adalah setelah kemerdekaan RI dimulailah penulisan mushaf Al-Qur’an Pusaka pada 23 Juli 1948 (17 Ramadhan 1367 H). Huruf Ba’ sebagai huruf pertama basmalah ditulis oleh Bung Karno dan Mim sebagai huruf penghabisan ditulis oleh Bung Hatta, mushaf tersebut berukuran 100 x 200 cm. Kemudian mushaf lainnya seperti penulisan Mushaf Ibnu Sutowo atas perintah Ibnu Sutowo, penulisan Mushaf Al-Qur’an At-Tin atas perintah Presiden Soeharto, penulisan Mushaf Al-Qur’an Istiqlal (mulai 15 Oktober 1991 dan selesai 23 September 1995), penulisan Mushaf Al-Qur’an Sundawi (mulai 14 Agustus 1995), penulisan Mushaf Al-Qur’an Kalibeber UNSIQ Wonosobo Jawa Tengah dan diikuti penulisan-penulisan mushaf daerah-daerah lain di Indonesia. Mushaf-mushaf tersebut dibuat dengan menonjolkan khas iluminasi dari alam khasanah ragam hias nusantara yang banyak diambil dari pohon, bunga, tangkai, akar dengan sistem stilasi atau abstraksi, serta diambil juga dari seni arsitektur rumah adat, tekstil, batik, perabot rumah tangga, perhiasan dan lain-lain. Jadi, penulisan mushaf Al-Qur’an dalam sejarah, lazimnya disponsori oleh salah satu dari tiga pihak, yaitu kerajaan, pesantren dan elite sosial. Sayangnya di Indonesia hingga saat ini belum ada buku atau monografi yang memaparkan sejarah penulisan mushaf Al-Qur’an dari masa ke masa secara komprehensif. Terutama mushaf kuno, biografi penulisnya dan tempat mushaf tersebut ditulis juga belum banyak diketahui.

Bagi kepentingan ilmu pengetahuan tentang khazanah budaya bangsa, khususnya yang menyangkut sejarah penulisan dan penyebaran Al-Qur’an di Indonesia, masalah yang perlu dikaji lebih mendalam adalah sebagai berikut:

1. Bagaimanakah perkembangan penulisan mushaf Al-Qur’an di Indonesia, sejak awal sejarahnya?

2. Siapakah penulis, pemrakarsa, dan pelindung penulisan mushaf Al-Qur’an di Indonesia?

3. Bagaimanakah tipologi mushaf-mushaf Al-Qur’an yang ditulis di Indonesia?

4. Mengacu ke manakah, pada umumnya, penulisan Al-Qur’an yang terdapat di Indonesia?

Ada dugaan bahwa antara Al-Qur’an di Jazirah Arab dengan Al-Qur’an yang beredar di negara-negara non-Arab terdapat beberapa perbedaan penulisan, terutama dalam penulisan tanda-tanda harakat dan tanda-tanda baca lainnya. Pengertian mushaf (jamak masahif) secara bahasa berarti kitab atau buku. Secara istilah, dalam pemakaian sehari-hari, kata “mushaf” lazimnya dimengerti sebagai Kitab Al-Qur’an, sehingga sering disebut Al-Mushaf asy-Syarif yang berarti Al-Qur’an yang Mulia. Dalam konteks ini, pengertian mushaf adalah salinan wahyu Allah (Al-Qur’an) dalam bentuk lembaran-lembaran naskah tulis yang utuh dan lengkap. Dalam kenyataannya, ia dapat saja berupa lembaran-lembaran tidak lengkap, atau hanya beberapa juz saja karena hilang, rusak, atau karena terpisah-pisah jilidannya. Termasuk dalam pengertian ini adalah mushaf yang dilengkapi catatan-catatan tambahan berupa arti atau tajwid di sekitar teks utama. Namun, kitab-kitab tafsir tidak termasuk dalam pengertian mushaf, dan tidak tercakup dalam penelitian ini. Meskipun demikian, informasi tambahan dari naskah tafsir dan naskah-naskah lain tetap diperlukan untuk mendukung sebuah penelitian. Adapun yang melingkupi pengertian mushaf adalah salinan Al-Qur’an secara keseluruhan, yang mencakup teks (nash) Al-Qur’an, iluminasi (hiasan sekitar teks), maupun aspek fisiknya, seperti jenis kertas, tinta, ukuran naskah, jenis sampul, penjilidan, dan lain-lain. Keseluruhan aspek fisik mushaf diteliti secara detail. Termasuk dalam pengertian mushaf yang diteliti adalah mushaf tulisan tangan yang belum masuk ke dalam dunia penerbitan atau cetak-mencetak. Walaupun demikian, mushaf-mushaf cetak tetap dijadikan bahan kajian sebagai sebuah proses sejarah penulisan mushaf. Di samping itu, aspek historis juga dikaji secara seksama untuk mendapatkan gambaran historis perkembangan penulisan mushaf di Indonesia. Dengan demikian, materi yang dikaji difokuskan kepada mushaf manuskrip (tulisan tangan) dan mushaf yang sudah dicetak sepanjang sejarah, baik yang menggunakan Rasm Usmani maupun Imla’i. Metodologi penelitian bisa menggunakan dua pendekatan, yaitu pertama, penelaahan terhadap manuskrip Al-Qur’an yang tersimpan di berbagai perpustakaan atau pun perorangan; dan kedua, menggunakan pendekatan sejarah (historical approach) untuk memperoleh data yang jelas tentang alur sejarah dan perkembangan penulisan mushaf Al-Qur’an.

Temuan penelitian asal usul naskah penelitian perkembangan penulisan mushaf di Sumatra dilakukan di empat provinsi, yaitu Sumatra Utara, Riau, Sumatra Barat, dan Sumatra Selatan. Naskah Al-Qur’an yang ditemukan di keempat provinsi tersebut tidak kurang dari 20 naskah. Dari sejumlah naskah itu hanya beberapa buah saja yang dapat dikatakan masih utuh 30 juz. Naskah-naskah yang lain tidak ada yang utuh lagi, karena rusak atau hilang, baik pada beberapa halaman awal, halaman tengah, maupun halaman akhir. Bahkan ada di antara susunan halamannya sudah tidak teratur lagi dan tidak memiliki nomor. Dari semua naskah Al-Qur’an yang ditemukan, sebagian ada yang mempunyai kolofon, walaupun tidak lengkap, sehingga setidak-tidaknya dapat diketahui tahun penulisannya. Namun sebagian besar naskah tidak mempunyai kolofon, sehingga tidak dapat diketahui siapa penulisnya, serta tahun berapa dan berapa lama ditulis, apalagi sebagaian naskah ditulis di atas kertas dluang atau kertas kulit kayu. Memang sebagian besar naskah ditulis di atas kertas Eropa yang memiliki cap kertas, sehingga dapat memberi petunjuk tentang perkiraan usia naskah, melalui tahun pembuatan kertasnya. Cap-cap kertas yang digunakan, antara lain Garden of Holland, Lion in Medallion, Concordia, dan Vryheid. Seluruh naskah yang ditemukan merupakan tulisan tangan yang tidak melalui proses cetak. Menurut Al-Azhar, Ketua Yayasan Bandar Srey Pekanbaru, pada umumnya naskah-naskah Melayu yang ditulis sebelum abad ke-19, termasuk naskah-naskah Al-Qur’an, ditulis dengan tinta yang terbuat dari tinta cumi-cumi atau buah sekeduduk. Menurut dia, tinta cumi-cumi lebih hitam, sedangkan tinta buah sekeduduk agak keungu-unguan atau kemerah-merahan. Naskah-naskah yang ditemukan sebagian kecil masih dapat diketahui asal usul pemilik dan penulisnya, karena masih tersimpan oleh ahli waris, seperti yang terdapat di Sumatra Barat dan Palembang. Tetapi sebagian besar sudah tidak dikenal lagi pemiliknya atau pun ahli warisnya, karena naskah itu telah tersimpan di museum daerah, yang sulit ditelusuri lagi pemiliknya, seperti yang terdapat di Riau. Petugas museum memperolehnya dengan cara membeli dari para kolektor yang datang membawa ke museum, tanpa penjelasan siapa pemilik asalnya. Menurut pengakuan para kolektor, naskah-naskah tersebut diperolehnya dari sekitar daerah Riau, khususnya Kampar dan Indragiri. Hal di atas tampaknya relevan dengan sejarah masuknya Islam ke Riau. Daerah yang mula-mula didatangi para pedagang asing, termasuk pedagang dari Arab-Persia (sekitar abad ke-12 dan ke-13), adalah daerah Kuntu Kampar, Riau bagian selatan, yang berbatasan dengan Sumatra Barat. Daerah ini dikenal dengan hasil ladanya, sehingga para pedagang dari mancanegara banyak berdatangan untuk membeli hasil pertanian tersebut. Dari daerah ini Islam kemudian menyebar ke daerah Rokan dan Indragiri (Sejarah Riau: 165-170).

Dengan demikian, beralasan bila di kedua daerah tersebut terdapat banyak naskah Al-Qur’an, baik yang dibawa oleh para pedagang atau pun yang ditulis umat Islam setempat untuk dibaca dan diajarkan. Kepala Museum Daerah Riau, Asmawati Hamzah, tidak sepenuhnya percaya kepada pengakuan kolektor tersebut. Boleh jadi sebagian naskah itu dari Sumatra Barat, karena salah seorang kolektor, Hilmi Talib, berasal dari Suliki, Payakumbuh, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatra Barat. Sumatra Barat atau Minangkabau merupakan daerah penganut Islam yang kuat, sehingga besar kemungkinan banyak terdapat naskah-naskah Al-Qur’an. Naskah-naskah tersebut dibawa ke Riau untuk dijual. Bagi kolektor, asal-usul naskah tidak penting, karena mereka hanya melihatnya dari segi keuntungan finansial belaka. Keadaan naskah-naskah Al-Qur’an yang ada, pada umumnya, dalam keadaan kurang terawat. Para ahli waris atau pihak museum tidak menempatkannya pada ruangan yang kondusif. Bahkan pihak museum menempatkannya di atas meja yang penuh debu, sehingga akan mempercepat lapuknya kertas. Pada saat ini, kertas naskah sudah banyak yang lapuk dan dimakan rayap, serta sebagian sudah sobek-sobek. Bahkan ada naskah yang tintanya sudah mengembang, dan kertasnya telah menghitam, sehingga sulit untuk membaca teksnya, atau mengenali cap kertasnya. Para petugas museum dan ahli waris tampaknya belum memahami bagaimana cara merawat dan menyimpan naskah dengan baik, sehingga dapat terpelihara dari kehancuran. Hal ini antara lain karena latar belakang pendidikan mereka yang tidak terkait dengan filologi dan kepurbakalaan. Begitu pula cara penghormatan ahli waris yang keliru terhadap karya nenek moyang mereka. Biasanya, naskah-naskah itu mereka bungkus dan mereka simpan di atas loteng rumah, sehingga sangat membahayakan bagi keselamatan naskah. Umur Naskah dari sejumlah naskah tersebut, hanya ada dua naskah yang memberi petunjuk waktu penulisannya, yaitu pada tahun 1277 H/1860 M dan 1261 H/1845 M. Sementara yang lainnya tidak ada petunjuk untuk mengetahui usia naskah apalagi penulisnya. Petunjuk yang dapat membantu untuk mengetahui usia naskah hanya dilihat dari bahan kertas yang digunakan. Pada umumnya, kertas yang digunakan untuk menulis Mushaf tersebut adalah kertas Eropa dengan cap Pro Patria, Garden of Holland, Concordia, dan Vryheid. Sebagian lainnya ditulis di atas kertas dluang atau kertas kulit kayu. Kertas-kertas Eropa tersebut pada umumnya dibuat sekitar abad ke-17 atau awal abad ke-18. Artinya, usia naskah-naskah tersebut diperkirakan sekitar 300 atau 200 tahun. Naskah yang ditulis di atas kertas dluang lebih sulit untuk diperkirakan umurnya, karena tidak mudah memperkirakan waktu pembuatan kertasnya.

Menurut Dr. Titik Pudjiastuti, ahli filologi, kertas dluang telah dibuat sejak abad ke-16. Meskipun demikian, mushaf dengan bahan kertas dluang tentu tidak mungkin diperkirakan disalin dari abad tersebut, karena pembuatan kertas tradisional secara manual itu masih dilakukan sampai awal abad ke-20. Untuk memperkirakan umur kertas dluang sebenarnya dapat dilakukan dengan mengukur kadar keasaman kertas melalui uji laboratorium. Namun hal itu belum dilakukan. Rasm dan tulisan naskah-naskah yang ditemukan tersebut hanya satu buah yang ditulis dengan Rasm Usmani. Selebihnya ditulis dengan Rasm Imla’i, kecuali lafal-lafal tertentu yang tetap mengacu kaidah penulisan Rasm Usmani. Berdasarkan temuan tersebut, kemungkinan para penulisnya tidak menyalin dari suatu naskah yang sudah ada, tetapi berdasarkan hafalan. Para penulis kemungkinan belum mengenal apa yang disebut dengan Rasm Usmani. Kemungkinan lain, penulis merasa tidak perlu menyalin naskah Al-Qur’an itu dengan Rasm Usmani, walaupun dia tahu hal itu, karena, di antara penulisnya ada yang memiliki pengetahuan ilmu qiraat. Misalnya di bagian pinggir sebuah naskah terdapat tulisan bacaan menurut qiraat selain qiraat Hafas. Hal itu menunjukkan bahwa pengetahuan sang penulis tentang hal-hal yang berkaitan dengan Ulumul Qur’an sudah cukup luas. Salah seorang penulisnya, Nurdin dari Sumatra Barat, pernah belajar di Irak, tetapi mushafnya belum menggunakan Rasm Usmani. Jumlah baris dalam setiap halaman sangat beragam, ada yang 7, 13, 14, dan 15 baris, dan dan pula yang 17 baris. Tentu saja perbedaan itu berpengaruh kepada kerapatan tulisan. Semakin sedikit jumlah baris dalam satu halaman, semakin lebar jarak antar barisnya. Sistem penulisannya tampak beragam, ada yang dengan sistem pojok dan ada yang tidak. Selain itu, ada yang setiap awal juz dimulai pada awal halaman, dan ada pula yang tidak diatur sama sekali. Awal juz bisa saja terletak di tengah halaman, bahkan di awal atau di tengah-tengah baris. Teks awal juz pun ada yang dibesarkan dan ada yang tidak. Alat tulis yang digunakan kemungkinan terbuat dari tumbuh-tumbuhan.

Di Sumatra Barat, alat untuk menulis khat disebut qalam, dibuat dari saga, yaitu lidi yang terdapat pada ijuk aren atau enau. Ada pula yang dibuat dari handam atau resam, sejenis pohon pakis, berbatang bulat dan keras. Teks Al-Qur’an Sebagaimana telah dikemukakan, seluruh naskah tersebut merupakan naskah asli tulisan tangan (manuskrip) dan belum dicetak. Secara umum tulisannya sangat sederhana, dan penulisnya belum dapat dikategorikan sebagai penulis Arab (khat) yang baik. Namun semua naskah tulisannya cukup konsisten, dilihat dari besar tulisan, kerapatan, maupun gayanya. Warna tinta yang digunakan ada dua macam, yaitu hitam dan merah. Teks Al-Qur’an ditulis dengan tinta hitam, sedangkan asesoris dan bagian-bagian tertentu, seperti hiasan pinggir, kepala surah, awal juz, tanda-tanda juz, tanda-tanda nisf, rubu’,umun, tanda ayat, rukuk dan sebagainya, menggunakan tinta merah. Penggunaan tinta merah pada setiap naskah dapat dikelompokkan kepada empat macam, yaitu untuk menulis kepala surah, kepala surah dan awal juz, kepala surah, awal juz, dan tanda-tanda di luar teks, seperti tanda ruku’, hizib serta terjemahan yang ditempatkan di bawah teks. Tinta merah digunakan pula untuk menulis bacaan-bacaan (qiraat) selain Qiraat Hafas yang ditempatkan di luar teksnya, seperti di pinggir kiri atau kanan naskah. Penulisan informasi pada kepala-kepala surah meliputi nama surah, tempat turun, dan jumlah ayatnya. Ditemukan bahwa pada semua naskah terdapat kesalahan-kesalahan dan ketinggalan dalam menulis teks ayat, baik yang diketahui oleh penulisnya maupun tidak. Bila kesalahan penulisan ayat tersebut diketahui oleh penulisnya, kalimat yang tertinggal itu ditulis pada bagian tepi luar bingkai teks, atau di sela-sela baris tempat kalimat tersebut tertinggal. Terjadinya kesalahan atau ketertinggalan dalam penulisan teks ayat (berdasarkan pengalaman dalam mentashih Al-Qur’an) menjadi bukti bahwa penulisan mushaf tersebut tidak melalui proses pentashihan.

Perbaikan dengan menambah kalimat di tepi luar halaman teks atau di sela-sela baris itu, kemungkinan besar dilakukannya berdasarkan tiga hal:

1. Kesalahan langsung ditemukan pada saat menulis naskah, sedangkan alat untuk menghapus tulisan belum ada pada masa itu, sehingga kekurangan tersebut terpaksa ditambahkan di tepi halaman teks.

2. Kesalahan atau kekurangan tersebut kemungkinan ditemukan setelah naskah itu selesai ditulis. Ketika penulisnya membaca kembali di kemudian hari, kesalahan atau kekurangan itu baru diketahui, lalu penulisnya menambah kekurangan itu di tepi halaman teks.

3. Kesalahan ditemukan oleh orang lain setelah naskah selesai ditulis, lalu orang tersebut menuliskan kekurangan tadi di tepi halaman teks atau di sela-sela baris, tempat kesalahan itu ditemukan. Hal ini terlihat dari karakter tulisan koreksi atau tambahan itu, ada yang tidak sama dengan tulisan aslinya.

Penulisan harakat, tanda-tanda tajwid, dan tanda ayat pertama, penulisan harakat. Penulisan harakat dapat digolongkan kepada beberapa cara yaitu:

1. Harakat fathah. Fathah yang digunakan ada dua macam, yaitu fathah miring dan fathah berdiri. Ada beberapa naskah yang hampir tidak mengenal fathah berdiri. Semuanya menggunakan fathah miring, baik pada huruf-huruf yang semestinya dibaca panjang, seperti ) atau pada lafal-lafal yang mempunyai alif maqsurah pada lafadz Jalalah (ﷲ seperti : تقوى، حتى، على, dan sejenisnya. Adapun penggunaan fathah berdiri dapat dikategorikan kepada tiga kelompok:

a. Fathah berdiri digunakan pada semua lafal yang dibaca panjang (mad), baik yang tidak menggunakan alif maupun yang menggunakan alif atau wau maqsurah, seperti pada lafal: الصلوة، على، تقوى, dan sejenisnya. Hal ini dijumpai pada naskah yang ditulis berdasarkan Rasm Usmani.

b. Fathah berdiri hanya digunakan pada lafal-lafal tertentu saja, seperti pada lafal: الله, تقوى، حتى، على dan sejenisnya. Di antara naskah-naskah tersebut ada yang menerapkan secara konsisten dan ada pula yang tidak.

c. Fathah berdiri digunakan pada huruf yang disertai dengan mad Tabi’i alif, seperti: مساجد، القتال، المال (huruf sin, ta dan mim diberi harakat fathah berdiri).

2. Harakat kasrah. Kasrah yang digunakan ada dua macam, yaitu kasrah miring dan kasrah berdiri. Penggunaan harakat kasrah berdiri terbagi kepada dua kelompok besar, yaitu:

a. Kasrah berdiri digunakan pada lafal-lafal yang menggunakan mad Tabi’i, ya dan ha ‘amar. Untuk huruf mim dan ha diberi harakat kasrah berdiri. Namun hampir semua naskah yang ada tidak menggunakan hal ini secara konsisten.

b. Kasrah berdiri hanya digunakan pada lafal-lafal khusus saja.

3. Harakat Dhammah. Semua naskah yang ada hanya menggunakan harakat Dhammah berbentuk seperti wau kecil. Bentuk tersebut digunakan baik pada huruf-huruf yang dibaca pendek atau pun yang dibaca panjang. Dalam naskah-naskah yang dijumpai belum mengenal harakat dhammah terbalik untuk bacaan panjang, seperti yang dikenal saat ini.

4. Harakat sukun. Bentuk harakat sukun yang digunakan ada dua macam, ada yang berbentuk setengah lingkaran dan ada yang berbentuk lingkaran penuh. Penggunaan sukun ada dua kelompok, yaitu:

a. Sukun pada setiap huruf mati, termasuk huruf mad (wau dan ya), kecuali alif.

b. Sukun pada setiap huruf mati selain huruf mad (wau, ya dan alif).

Selanjutnya, penulisan tanda tajwid, yaitu tanda idghom, iqlab, mad wajib, mad jaiz, dan sebagainya. Hampir semua naskah yang ditemukan tidak mengenal tanda idghom, iqlab, dan mad jaiz, kecuali mad wajib. Namun masing-masing naskah tidak ada yang menerapkannya secara konsisten. Sebuah mushaf dari Riau telah dilengkapi dengan tanda-tanda tajwid yang sangat khas. Setiap lafal atau kalimat yang bacaannya terkait dengan ilmu tajwid diberi tanda-tanda tertentu oleh penulisnya, seperti untuk bacaan idghom bi gunnah yang diletakkan di atas huruf bersangkutan, untuk bacaan ikhfa', untuk bacaan izhar, untuk bacaan iqlab yang diletakkan di atas ba’, untuk idghom bila gunnah yang diletakkan di atas harakat, untuk bacaan mad jaiz diletakkan di atas huruf mad dan untuk bacaan mad wajib. Selain itu, ada pula naskah yang telah mengenal nun sambung kecil yang diletakkan di bawah alif wa’al, seperti yang ditemukan pada mushaf dari Palembang dan Riau.

Kemudian tanda waqaf. Sebagian besar naskah yang ditemukan belum menggunakan tanda-tanda waqaf. Namun tidak berarti semua naskah telah menggunakan tanda-tanda waqaf tersebut secara lengkap. Ada naskah yang hanya mengenal satu tanda waqaf dan ada pula yang dua atau tiga macam. Keempat, tanda ayat, yaitu tanda yang digunakan untuk pembatas antara satu ayat dengan ayat lainnya. Semua naskah bertanda ayat bulatan kecil kosong tanpa angka, atau hanya berupa tanda titik. Adakalanya bulatan tersebut diberi warna, kuning atau merah, sehingga lebih memperjelas tampilannya. Penempatan tanda-tanda ayat ada yang tidak sama. Ada ayat-ayat yang semestinya diberi tanda ayat, tidak diberi tanda ayat. Sebaliknya, ada pula tempat-tempat tertentu yang semestinya tidak terdapat tanda ayat, justru diberi tanda ayat. Perwajahan sampul naskah-naskah yang masih memiliki sampul (cover) pada umumnya terbuat dari kulit yang sudah disamak dan diolah dengan kualitas yang cukup bagus, seperti halnya sampul-sampul kitab kuning yang dijilid dengan afranji yang kita kenal sekarang ini. Bagian sampul didesain dengan ukiran yang cukup indah, dicetak dengan cara embos. Ukiran itu terdapat di tengah-tengah (medalion), tengah bagian atas dan bagian bawah, serta pada keempat sisinya. Ukiran di bagian tengah adakalanya berupa kaligrafi tulisan “Muhammad” dalam bentuk oval, atau hiasan bunga-bunga (flora). Untuk memperindah, khat Arab itu dihiasi pula dengan ukiran-ukiran bunga. Ukiran yang terdapat pada empat sisi dan di tengah-tengah bagian atas dan bawah berbentuk akar dan daun yang melingkar-lingkar, sehingga tampak indah. Sekitar 2 cm dari pinggir sampul, mengikuti tepi sampul, terdapat pula ukiran berbentuk tali berpilin-pilin yang menambah keindahan desain. Kemungkinan besar, pembuatan cover dan penjilidan tersebut bukanlah dibuat oleh orang-orang setempat, tetapi dipesan dari Betawi (Batavia). Keahlian semacam itu masih terbatas di kalangan orang-orang Eropa, atau pribumi yang telah memperoleh keterampilan menjilid dari orang Eropa. Hal ini didasarkan kepada surat Raja Ali Haji tanggal 27 Jumadil Akhir 1275 H (1859 M) yang memesan sejumlah kitab yang hendak diberi sampul di Betawi. Pola ukiran sampul naskah Al-Qur’an yang ditemukan di Riau dan Palembang hampir sama.

Hiasan dalam hiasan dalam adalah hiasan yang melingkari teks ayat, baik yang terdapat di pinggir halaman maupun di dalam teks, seperti hiasan pada kepala surah dan nomor ayat. Hiasan yang cukup indah pada umumnya terdapat pada dua halaman pertama (Ummul-Qur’an), dua halaman tengah (Nisful-Qur’an) dan dua halaman terakhir (Khatmul-Qur’an). Pada halaman-halaman tersebut terdapat ukiran dengan motif kembang yang variatif, dengan kombinasi warna merah, kuning, biru, dan lain-lain. Motif-motif bunga yang digunakan sangat dipengaruhi oleh budaya lokal tempat naskah tersebut ditulis. Sebagian lagi bermotif kombinasi binatang. Di Sumatra Barat, ukiran tersebut diberi nama itik pulang petang dan kaluak paku. Tampilan hiasan pada halaman-halaman tersebut tampak begitu dominan, memenuhi ruangan di sekitar teks, yang ukurannya dibuat lebih kecil daripada halaman-halaman lainnya. Para seniman menghiasi halaman ini sesuai dengan kreasi dan rasa seni yang dimiliki oleh masing-masing daerah. Ornamen pada ketiga halaman khusus itu (bahkan kadang-kadang juga kaligrafinya) tampaknya tidak selalu dibuat sendiri oleh penulis teks Al-Qur’annya, tetapi bisa jadi diserahkan kepada ahlinya yang lain yaitu para pelukis. Hal itu tampak dari perbedaan kualitas penggarapannya. Pada halaman-halaman lain hampir tidak ada ornamennya, dan hanya berupa garis pinggir (dua atau tiga lajur) yang membingkai teks. Sebagian mushaf menggunakan motif ukiran atau bunga dalam bentuk sederhana. Perhatian khusus diberikan pada kepala-kepala surah dan permulaan juz atau pembagian hizib, dengan warna dan gaya tulisan yang lain, dan kadang-kadang diberi ornamen sederhana. Kaligrafi kepala surah cukup bervariasi dengan gaya tulisan sederhana. Penulisnya belumlah dapat dikategorikan sebagai khat yang mahir, karena tulisannya pada umumnya dapat dikatakan sederhana atau sangat sederhana. Demikian pula tulisan-tulisan tanda tajwid dan tanda rukuk. Tanda-tanda pembagian ayat Al-Qur’an tersebut kadang-kadang ditempatkan dalam sebuah ornamen berwarna.

Kesimpulan berdasarkan temuan mushaf tertua bertahun 1585 M dari Ambon, diperkirakan bahwa abad ke-16 merupakan awal pertumbuhan penulisan mushaf Al-Qur’an di Indonesia. Ulama-ulama di berbagai tempat lain di Indonesia diperkirakan juga melakukan hal yang sama, karena naskah-naskah Al-Qur’an kuno juga dijumpai di Jawa, Sumatra, Sulawesi, Kalimantan, Nusa Tenggara Barat, Bali, dan sebagainya. Para penyalin menghormati dan mengagungkan Al-Qur’an dengan menulisnya secara indah dan rapi, sehingga tampak menarik. Penjilidannya pun diupayakan sekuat dan sebaik mungkin, menggunakan bahan-bahan yang terbaik. Seni yang ditampilkan dalam naskah-naskah Al-Qur’an, selain kaligrafi, juga ornamen dengan motif ragam hias lokal dari masing-masing daerah tempat naskah itu ditulis. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa naskah-naskah Al-Qur’an, setelah ditulis, tampaknya belum sempat dibaca ulang dengan teliti (ditashih), sehingga banyak ditemukan berbagai kesalahan dalam penulisannya. Di antaranya, ada ayat yang tertinggal atau berlebih, ada yang salah harakat atau terlupa memberi harakat, ada yang diberi tanda-tanda tajwid dan ada yang tidak, dan lain sebagainya.

Berbagai kesalahan dalam penulisan teks Al-Qur’an karena beberapa hal, diantaranya:

1. Para penulis naskah pada masa itu masih terbatas dan banyak yang belum profesional.

2. Belum ada lembaga yang secara khusus meneliti kebenaran penulisan naskah Al-Qur’an (mentashih) seperti sekarang.

3. Naskah masih ditulis oleh perorangan, baik atas permintaan pemerintahan (raja) atau pun oleh masyarakat.

4. Naskah tersebut tidak sempat dibaca oleh banyak orang, terutama yang mengetahui dan hafal Al-Qur’an (hafidz).

Dilihat dari aspek kaidah penulisannya, naskah-naskah Al-Qur’an terbagi menjadi dua kelompok, ada yang ditulis dengan Rasm Imla’i, dan ada yang ditulis dengan Rasm Usmani. Selain itu, ada yang ditulis dengan sistem pojok, dan ada yang tidak, yang mempengaruhi sistem penulisan naskah-naskah Al-Qur’an dewasa ini. Pola yang dibuat oleh para pendahulu tersebut diikuti oleh generasi-generasi berikutnya sampai sekarang. Kaitannya dengan Rasm Usmani, terdapat tiga perbedaan pendapat mengenai tulisan Al-Qur’an yaitu:

1. Tulisan Al-Qur’an harus mengikuti khat Mushaf Usmani, meskipun khat tersebut menyalahi kaidah nahwiyah dan sharfiyah serta mudah mengakibatkan salah bacaannya bila tidak diberi baris atau harakat.

2. Tulisan Al-Qur’an boleh mengikuti kaidah nahwiyah dan sharfiyah meskipun menyalahi khat Mushaf Usmani, karena hal itu memudahkan bagi para pembaca, terutama bagi yang belum begitu mengenalnya, dan mengurangi kemungkinan adanya kesalahan-kesalahan pembaca Al-Qur’an. Sedangkan dasar hukum keharusan mengikuti khat Mushaf Usmani itu hanya Aqliyah Ijtihadiyah semata.

3. Al-Qur’an yang merupakan sebagai bacaan umum harus ditulis menurut kaidah nahwiyah dan sharfiyah serta harus senantiasa ada Al-Qur’an yang ditulis menurut khat Mushaf Usmani sebagai barang penting yang selalu terpelihara dan terjaga. Adapun pedoman dan ketentuan untuk menulis Al-Qur’an menurut khta Mushaf Usmani dapat diambil dari kitab Al-Itqan fi ‘Ulumil Qur’an juz II yaitu:

a. Pedoman Dasar

Berdasarkan kaidah-kaidah hukum dalam kitab-kitab agama Islam yangtelah dipelajari pada rapat kerja di Ciawi Bogor, mengharuskan bahwa rasm khat Al-Qur’an yang akan diterbitkan di Indonesia sesuai dengan Rasm Usmani.

b. Perbedaan pada Rasm Usmani

Bila pada Rasm Usmani terdapat perbedaan-perbedaan, maka kesemuanya dapat diikuti.

c. Kaidah-kaidah tentang Rasm Usmani

Kaidah-kaidah tentang Mushaf Rasm Usmani dapat dibagi atas: membuang huruf, menambah huruf, penulisan hamzah, mengganti huruf dengan huruf latin, menyambung atau memisah tulisan dan kalimat, serta kalimat yang bacaannya lebih dari satu macam.

Atas dasar ini, kita akan menemukan bahwa tanda-tanda baca yang digunakan pada penulisan Al-Qur’an kenyataannya lebih kompleks, jika dibandingkan dengan tanda-tanda yang dipakai pada tulisan-tulisan Arab non Qur’anis. Maka tidak heran jika tanda-tanda tersebut menyerap makna-makna yang lebih dalam seperti tanda waqaf yang menyimpulkan bacaan bernada panjang, pendek hingga pengaturan tarik nafas dan lainnya. Yang semuanya tidak akan dijumpai dalam tanda-tanda tulisan Arab biasa.

Dari bahasan tersebut diatas, maka dapat disarankan beberapa hal sebagai berikut:

1. Perlu penelitian dan penelusuran lebih lanjut tentang keberadaan mushaf-mushaf kuno yang jumlahnya cukup besar dan masih tersebar di seluruh Nusantara

2. Perlu menginventarisasi mushaf-mushaf yang telah ditemukan, dan membuat katalog khusus mushaf kuno.

3. Perlu ada kerja sama antara pemerintah daerah dan Kementerian Agama RI dalam upaya menyelamatkan mushaf-mushaf kuno yang kondisinya saat ini cukup memprihatinkan, karena cara penyimpanannya yang kurang tepat, sehingga naskah akan cepat lapuk dan hancur.

4. Perlu mengupayakan penghimpunan mushaf-mushaf kuno untuk disimpan di Bayt Al-Qur’an, sebagai salah satu wadah yang dapat dianggap paling representatif dalam bidang ini.

5. Perlu ditempuh langkah-langkah pengenalan (sosialisasi) kepada masyarakat luas tentang kekayaan khazanah naskah klasik berupa mushaf dan berbagai jenis naskah klasik Islam Nusantara.

6. Perlu dilakukan peyuluhan dan pembinaan kepada pemilik naskah atau pengelola museum tentang tata cara menyimpan naskah-naskah klasik, termasuk mushaf, agar dapat terpelihara dengan baik.

Dengan pemaparan latar belakang sejarah pertumbuhan kaligrafi dan seni hiasan mushaf Al-Qur’an diatas, maka kewajiban kita untuk terus melestarikan dan menumbuh kembangkan aset budaya Islam tersebut, dalam perwujudannya sebagai langkah pengembangan budaya Islam tersebut sering diadakan beberapa aktivitas dari yang terkecil seperti sayembara kaligrafi dan pembuatan mushaf hingga pada sosialisasi lain diantaranya mengadakan ajang gelar karya, pembinaan kaligrafi, diskusi, seminar, mendirikan sanggar kaligrafi, pesantren kaligrafi dan lainnya. Perkembangan seni mushaf di Indonesia selanjutnya dimulai dengan dimasukkannya kaligrafi ke dalam lingkup perlombaan. Pemerintah dalam hal ini LPTQ secara khusus memasukkan kaligrafi sebagai salah satu komponen yang dilombakan dalam MTQ (Musabaqah Tilawatil Qur’an) dari tingkat daerah hingga nasional yang terdiri dari tiga golongan; golongan naskah, golongan hiasan mushaf dan golongan dekorasi. Gaungnya semakin terdengar ketika pelaksanaan Festival Istiqlal II kembali digelar tahun 1995 di Jakarta. Selesainya pembuatan Mushaf Al-Qur’an Istiqlal merupakan kebangkitan dan puncak dari sebuah karya seni mushaf yang adiluhung serta mampu memberikan inspirasi dan semangat generasi muda untuk terus melestarikan khasanah kaligrafi hiasan mushaf Al-Qur’an.

(Dari berbagai sumber)

Last Updated on Friday, 24 June 2011 03:18