Share on Myspace
A.D. Pirous PDF  | Print |  E-mail
Written by irfan   
Wednesday, 16 March 2011 13:28

A.D. Pirous

A.D. Pirous lahir di Meulaboh, Aceh 11 Maret 1932. Tahun 1964 ia berhasil menyelesaikan studinya di Departemen Seni Rupa, Institut Teknologi Bandung. Di tahun itu pula ia diangkat resmi sebagai tenaga pengajar tetap ITB, khususnya memberikan materi kuliah seni lukis, tipografi, dan kaligrafi. Delapan tahun kemudian ia menjadi salah seorang pendiri, ketua, dan dosen senior program studi Desain Komunikasi Visual. Tahun 1984, ia menjabat sebagai dekan Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB. Walhasil, tiga puluh tahun sejak ia menjadi dosen tetap ITB, A.D. Pirous mencapai posisi tertinggi di dalam dunia akademik. Tanggal 11 Maret 2002, ia genap berusia 70 tahun, usia yang harus dinikmati sebagai masa pensiun, setelah nyaris selama 40 tahun mengabdikan dirinya di dunia akademik. Tanggal 11 Maret 2003, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung, akan menyelenggarakan semacam acara pelepasan masa purna bakti A.D. Pirous dengan perhelatan pameran dan diskusi. Berkenaan dengan itu, telah disusun sebentuk narasi sebagai bingkai tema untuk mendasari acara tersebut, yakni Membaca Kembali Perjalanan A.D. Pirous (1964-2003).

A.D. Pirous sebagai pengabdi dunia pendidikan akademik di dalam kampus ITB bisa saja mengalami masa akhir, namun sesungguhnya tiada istilah selesai baginya sebagai pendidik di luar dunia akademik. Di samping itu, ia adalah seorang muslim, seniman, budayawan, penggerak organisasi seni rupa, dan duta bangsa dalam pergaulan internasional.

Karenanya, dalam konteks Membaca Kembali Perjalanan A.D. Pirous (1964-2003), posisi pembacaannya tidak akan terluput dari lingkaran besar kehidupan. Ia yang turut memberikan sumbangsih makna penting bagi ITB.

Dasar-dasar proses pembacaan tersebut berangkat dari berbagai unsur yang turut membangun A.D. Pirous sebagai pribadi manusia muslim, seniman, dan akademisi di dalam sekian komunitas. Sebagai muslim kelahiran Aceh di dalam koridor kesenimanan, ia telah melahirkan temuan-temuan, yang secara akademik dapat diketengahkan sebagai suatu bangunan pemikiran bagi seni rupa modern Indonesia yang bernafaskan Islam. Seni Lukis kaligrafi Arab (Islam) yang berhasil dicetuskan dan dikembangkan telah menjadi salah satu genre seni rupa modern di Indonesia. Demikian pula dengan kerangka dasar pendidikan desain komunikasi visual yang dicetuskan dan dikembangkannya, kini telah mekar menjadi bidang disiplin penekunan keahlian dan keprofesian yang memiliki dan dimiliki masyarakat luas di Indonesia.

Sebagai seorang budayawan A.D. Pirous tidak hanya berkutat di dalam proses pengembangan dunia seni rupa, namun melebar hingga menyentuh bagian-bagian yang mendasar menyangkut suatu rancang strategi kebudayaan. Hal ini diterapkannya dalam mengkonstruksikan sekaligus mengorganisasikan langkah-langkah promosi penghadiran dan pemahaman tentang kebudayaan Indonesia di forum-forum regional dan internasional. Karenanya, ia kerap ditugasi sebagai pimpinan delegasi dan duta bangsa, baik dalam kapasitas sebagai seniman, pengamat, budayawan, maupun kurator perhelatan seni rupa, seperti pada festival Istiqlal I dan II, Pameran Seni Rupa Asia, gerakan Negara-negara Non-Blok, dan Venice Biennal.

***

A.D. Pirous merupakan salah seorang tokoh penting dalam seni rupa modern di Indonesia. Kemunculannya sebagai artist tahun 1960-an ikut mempengaruhi perkembangan seni rupa di kemudian hari. Ia terutama dikenal sebagai perupa yang pertama kali mengembangkan kaligrafi Arab (tulisan Arab yang artistic) pada karya-karya grafis dan lukisan. Inovasi ini menempatkan dirinya memiliki peran penting dalam melahirkan kecenderungan seni rupa Islami.

Melalui karya-karya kaligrafi, Pirous sanggup mencapai puncak kemahiran dalam rangkaian menggambar, menulis, dan melukis. Kemampuannya mengolah garis, susunan yang cermat, tekstur, dan terutama warna seperti terlihat pada artist semua karyanya, dari dulu hingga sekarang, menunjukkan kemampuannya yang tak tertandingi itu. Salah satu yang menjadi arti khusus karya lukisan kaligrafinya adalah posisi kaligrafi yang bukan sekedar tempelan tetapi sebagai yang pokok, struktur lukisan itu sendiri. “Kaligrafi dalam karya-karya saya bukan sebagai tambal-sulam,” katanya, “tetapi sebagai struktur lukisan itu sendiri. Nah, ini yang saya temukan sendiri dan tidak saya lihat pada lukisan orang lain.”

Pencapaian estetika dan artistic Pirous boleh dibilang mempunyai konsepsi estetis tersendiri dalam seni lukis modern yang berkembang di Indonesia. Karya-karya Pirous tidak hanya ekpresif tetapi juga komunikatif. Ia menorehkan huruf-huruf kaligrafi Arab secara tertib sebagai tanda baca, yang membentuk kata, lalu kata menyusun kalimat, dan kalimat mengandung arti tertentu. Ditangan Pirous, kaligrafi menjadi fleksibel, elastis, dinamis, dan memberikan kemungkinan luas untuk diolah sesuai latar budaya yang melingkupinya dan media yang digunakan. Dengan kaligrafi Pirous berupaya membumikan bahasa langit (yang berupa kalam illahi dan hadist Nabi) melalui proses penghayatan dan penyadaran religius. Melalui karyanya, agaknya Pirous ingin mengatakan yang spiritual lebih penting dari yang material. Dan seni bisa digunakan sebagai sarana manusia untuk menemukan kembali dimensi kerohaniannya dalam kehidupan.

Usia tidak pernah menghalangi Pirous untuk terus berkarya. Sebagai pelukis dan pegrafis, ia menghasilkan karya-karya yang mengagumkan. Karya-karya Pirous, yang mantap wawasan estetikanya, sangat mempesona dan mencerminkan kedalaman penghayatan religius dirinya terhadap obyek-obyek seni rupa yang menjadi target garapan seni lukisnya. Karya-karyanya membangkitkan ingatan banyak orang akan kegemilangan seni rupa Islam nusantara, yang pertama kalinya berkembang di Samudera Pasai, Nanggroe Aceh Darussalam, kemudian berkembang di wilayah-wilayah lain di kepulauan nusantara. Karya-karya yang saya buat itu ingin saya tempatkan sebagai suatu unsur surprising, keterkejutan, dalam melihat karya itu. Selalu saya ingin dari karya itu tampil sesuatu yang membuat orang tertegun melihatnya. Tertegun karena maknanya. Karena memberikan satu kehangatan spiritual,” ujar Pirous. “Kalau Tuhan memberikan saya waktu dan kesempatan saya akan terus berkarya untuk mencatat apa-apa yang mungkin berguna untuk generasi penerus yang akan datang. Menciptakan karya-karya yang bisa turut memperkaya khasanah seni rupa Indonesia,” katanya.

Pirous dikenal di dalam dan di luar negeri sebagai pelopor seni rupa kontemporer Indonesia. Keluarga punya arti penting dalam perjalanan karier Pirous. A.D. Pirous masih tampil sebagai perupa bermutu tinggi, pandai mengelola pekerjaannya, dan bernyali dalam membina hubungan-hubungan antar-bangsa di bidang seni rupa. Sepanjang kariernya, Pirous tidak terjebak untuk hanya menuangkan ketrampilan yang diulang-ulang, melainkan lebih dahulu memberi konseptualisasi yang khusus dan perenungan yang dalam. Pirous yang energik, Pirous yang rindu kebaruan dalam berkarya, adalah sosok yang jejak-jejak karyanya, akan selalu dikenang.

***

A.D. Pirous dikenal dengan karya-karyanya yang bernafaskan islami. Pengungkapannya dalam lukisan lewat konstruksi struktur bidang-bidang dengan latar belakang warna yang memancarkan berbagai karakter imajinatif. Dengan prinsip penyusunan itu, pelukis ini sangat kuat sensibilitasnya terhadap komposisi dan pemahaman yang dalam berbagai karakter warna. Nafas spiritual suatu ketika muncul dalam imaji warna yang terang, saat yang lain bisa dalam warna redup yang syahdu, sesuatu juga bisa muncul dalam kekayaan warna yang menggetarkan. Sentuhan ragam hias etnis Aceh, yang memuat ornament-ornamen atau motif Buraq, juga memberikan nafas sosiokultural yang islami dalam lukisannya. Sebagai puncak kunci nafas spiritual itu, adalah aksentuasi kaligrafi Arab yang melafaskan ayat-ayat Suci al-Qur’an. Dalam lukisan “Beratapkan Langit dan Bumi Amparan” (QS. Al-Baqarah), 1990 ini, Pirous juga menghadirkan spiritualitas yang menyentuh. Latar belakang biru ultramarine membawa imaji tentang kedalaman kosmos yang tak terhingga. Di atas, menyembul bagian dari potongan-potongan bidang oker yang mencitrakan suatu massa langit. Di bawah, dua bidang putih dengan kaligrafi Al Qur’an tegak menjadi pondasi yang kokoh untuk citra bumi. Di antara imaji antara langit dan bumi itu suatu garis putih yang serupa cahaya membelah vertikal melewati kedalaman kosmos. Dengan berbagai karakter yang dapat dibaca lewat fenomena tekstual tersebut, maka garis yang serupa cahaya itu, dapat ditafsirkan sebagai cahaya keilahian yang menghubungkan langit dan bumi. Dalam lukisan-lukisan yang lain, pelukis ini sering membangun suasana alam untuk memberikan latar belakang yang kuat yang berhubungan dengan ayat-ayat Al Qur’an dalam lukisannya. Lewat penyusunan bidang-bidang, ruang, dan warna-warna tertentu, suasana dalam lukisan dapat memantulkan senja yang temaram, pagi yang jernih, ataupun malam yang syahdu. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Pirous juga berhasil mengembangkan seni lukis abstrak yang simbolis. Semua eksploitasi ide, medium, dan teknis tersebut akhirnya tidak hanya sekedar menempatkan Pirous sebagai pelukis kaligrafi yang handal, tetapi lebih jauh lagi mempertegas pencapaiannya sebagai pelukis spiritual islami.

***

Lukisan kaligrafi Islam tak bisa dilepaskan dari sosok A.D. Pirous. Dialah lokomotif yang menghela gerbong kaligrafi sehingga menjadi ganre tersendiri dalam peta seni rupa di Indonesia. Kini, usianya lebih dari 75 tahun dan selama 35 tahun sudah dia setia mendorong gerbong itu.

Untuk mensyukuri proses kreatifnya, Pirous menggelar pameran tunggal dan diskusi di Galeri Soemardjo, Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Institut Teknologi Bandung (ITB), Rabu (21/3) siang. Diskusi menampilkan narasumber Pirous sendiri dan penyair Abdul Hadi WM, dengan dipandu Aminuddin TH Siregar.

Apresiasi terhadap seniman sepuh itu terlihat dari banyaknya tamu yang hadir. Ada rombongan pelukis kaligrafi dari Yogyakarta seperti Syaiful Adnan, Hendra Buana dan Yetmon Amier. Kaligrafer D. Sirojuddin AR, pelukis bulu Firdaus Alamhudi, Hatta Hambali dan pengamat seni rupa Merwan Yusuf dari Jakarta, serta Said Akram yang datang jauh dari Aceh.

Sejumlah sahabat Pirous dari ITB juga muncul seperti perupa Soenaryo, pematung Rita Widagdo, pegrafis Priyanto S, dan Sam Bimbo. Dari kalangan labih muda ada Tisna Sanjaya, smudjo Jono Irianto, dan Agung Hujatnika Jenong. Para mahasiswa serta sejumlah pejabat kampus juga hadir.

Hari itu memang harinya Abdul Jalil Pirous, demikian nama lengkap seniman ini. Bersama istrinya, Erna Garnasih Pirous (66), dia menyambut semua tamu dengan wajah gembira. Tiba giliran diskusi, dia memaparkan perjalanannya menekuni lukisan kaligrafi sejak tahun 1972 hingga diskusi hari ini. Sekitar 1 setengah jam berbicara, kakek dua cucu itu memperlihatkan stamina yang oke, suara lantang dan tetap energik.

“Kaligrafi dalam lukisan saya bermula saat belajar desain dan seni grafis di Rochester Institute of Technology, New York, Amerika Serikat, tahun 1968-1970,” ungkapnya mengawali semacam kuliah gratis siang itu. Dia sempat mengunjungi pameran koleksi seni Islam dari Timur Tengah di New York Metropolitan Museum. Karya kaligrafi Arab (Islam) yang indah membuatnya terpengaruh, tercenung dan teringat pada artefak kaligrafi Islam yang banyak tersebar di kampung halamannya di Aceh.

“Kenapa tidak menggali kekayaan tradisi untuk melahirkan identitas seni rupa modern?”. Begitu kira-kira gumamnya saat itu. Dia pun terlecut untuk melahirkan karya seni rupa yang memadukan keyakinan ideologis (Islam), khasanah lokal di Aceh (kaligrafi Arab) dan semangat zaman (modern). Pulang ke tanah air, Pirous membuat grafis dan lukisan dengan tema utama kaligrafi Islam. Salah satu karya awanya, berupa etsa ukuran 40 x 50 cm yang menorehkan Q.S. Al-Ikhlas secara lengkap.

Karya ini-juga karya grafis selanjutnya-mengandalkan teknik etsa viscosity, yaitu cetak intaglio yang menghasilkan warna dan tekstur berlapis-lapis. Adapun lukisan kaligrafi diolah dengan tekstur tebal dan dibalur warna-warni yang kaya. Karyanya selalu menampilkan penggarapan bidang, warna,. Tekstur dan huruf Arab yang harmonis.

Sambil berkarya, Pirous melakukan penelitian lapangan kaligrafi Islam di situs, makam kuno, masjid dan rumah tradisional di Banda Aceh, Aceh Utara dan Aceh Jaya. Dia makin tersentuh menyaksikan kaligrafi pada naskah kuno (manuskrip) yang berumur lebih dari 150 tahun di Tanoh Abee.

Apakah saat itu tidak ada pelukis lain yang menggarap kaligrafi Islam? Jawabnya: Akhir tahun 1960-an, Ahmad Sadali dan But Muchtar memperkaya lukisannya dengan memasukkan aksara Arab dari ayat-ayat suci al-Qur’an. Namun kaligrafi masih menjadi semacam catatan dan dikerjakan selingan saja.

Itu berbeda edngan lukisan kaligrafi Anda? Jawabnya: Saya mengangkat kaligrafi sebagai bagian utama yang konstruktif dalam lukisan, bukan sekedar catatan. Antara aksara dan latar belakang lukisan menyatu. Saya berusaha menampilkan karya yang bertubuhkan huruf Arab dengan menyandang spirit religius Islami.

Kapan Anda kali pertama menggelar pameran lukisan kaligrafi Islam? Jawabnya: Pameran tunggal pertama saya di The Chase Manhattan Bank, Jakarta tahun 1972. Saya menyajikan 13 lukisan kaligrafi diatas kanvas. Pameran ini dapat dianggap sebagai pameran tunggal pertama kaligrafi Islam di Indonesia. Tahun 1976, di tempat yang sama, saya kembali berpameran tunggal dengan menampilkan karya cetak saring (serigraphy), juga dengan tema kaligrafi. Kedua pameran itu jadi titik mula tumbuhnya seni lukis kaligrafi di Indonesia.

Bagaimana munculnya pelukis kaligrafi lain? Jawabnya: Amang Rahman dari Surabaya pernah bercerita, dia sempat melihat pameran saya di Jakarta tahun 1972 dan berpikirm kenapa tidak? Lantas, dia membuat lukisan kaligrafi dengan nuansa sufistis dalam kanvasnya. Pelukis Amri Yahya di Yogyakarta memasukkan kaligrafi dalam lukisan dengan pendekatan batik yang ekspresif.

Kapan gerakan lukisan kaligrafi mencuat lebih lugas? Jawabnya: Tahun 1979, di MTQ (Musabaqah Tilawatil Qur’an) ke-11 di Semarang, diselenggarakan Pameran Seni Lukis Kaligrafi Islam Nasional, diikuti lebih dari 20 orang, dari pelukis yang khusus berkarya kaligrafi Arab. Sampai seniman senior yang mencoba memasukkan unsur kaligrafi dalam karya. Batara Lubis membuat lukisan Allahu Akbar. Srihadi Soedarsono melukis Alif Lam Mim dalam latar belakang horizon, Widayat melukis ar-Rahman, dan Fajar Sidik memasukkan Allah dalam karyanya. Muncul juga Syaiful Adnan dengan gaya kaligrafi yang khas. Tahun 1981, pada MTQ ke-12 di Banda Aceh, dimulai tradisi baru yaitu menyelenggarakan pameran seni rupa kaligrafi Islam sebagai pendamping MTQ. Tradisi itu diteruskan pada MTQ-MTQ selanjutnya di Padang, Pontianak dan kota lain. Saat Festival Istiqlal (FI) I tahun 1991 dan FI II tahun 1995, lukisan kaligrafi jadi arah baru? Jawabnya: Ya, pada FI I. Ada sekitar 250 karya lukisan kaligrafi dari 70-an pelukis yang dipamerkan. Pada FI II lukisan kaligrafi bertambah banyak, mungkin sekitar 300 karya dari 90-an pelukis. Kaligrafi juga muncul pada batik dan patung. Pematung Arsono membuat karya Alif Lam Mim. Perlu dicatat, bahwa pameran bersamaan pembukaan Baitul Qur’an danMuseum Istiqlal di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta, tahun 1996. Pada awal dan pertengahan tahun 1990-an itu banyak perupa tertarik untuk membuat karya seni bernafaslan Islam.

***

Mengeksplorasi kaligrafi Pirous menyajikan 2 lukisan kaligrafi pilihan dalam pameran di galeri Soemardjo ITB Bandung tanggal 22-23 Maret 2007. Karya-karya itu dibagi dalam lima kelompok, yaitu lukisan kaligrafi bertema al-Qur’an, perang dan politik, sastra, sosial serta pengolahan huruf. Lukisan kaligrafi bertema ayat suci al-Qur’an, dibuat tahun 1970-2007, menyuguhkan rangkaian ayat Tuhan dari masa silam yang tertoreh diantara pecahan batu bernuansa kuno. Kekunoan itu tampil modern karena ditata dalam komposisi visual dengan takaran estetis. Makna ayat dan latar belakang viaual tampil serasi. Tema perang dan politik (1998-2003) menggambarkan kenangan konflik berdarah di Aceh, rencong, teks Hikayat Perang Sabil, dan sosok pahlawan Teuku Umar. Dia juga merespon politik nasional dan perang Amerika-Irak. Karya jenis ini lebih ekpsresif, diperkaya dengan potret atau sosok manusia. Kaligrafinya tak terpaku pada huruf Arab saja, tetapi merambah aksara Romawi, paku dan citra huruf lain. Kaligrafi sastra (tahun 2000-an) mengangkat teks sastra Aceh, syair Persia, dan puisi modern. Karya berisi aksara Arab pegon dengan latar belakang yang teduh. Lukisan bertema sosial (tahun 2005-2006_ banyak mengungkapkan pesan moral secara lugas. Agar lebih terbaca, dignakan aksaea Romawi dalam bahasa Indoensia, Aceh, dan Inggris. Karya bertema pengo;ahan huruf (tahun 1970-2007) memperlihatkan bagaimana Pirous lihai mengeksplorasi anatomi kaligrafi, Bermula dari aksara tak terbaca yang miriup huruf paku (hieroglif) Mesir Kuno, menyerupaigaya Andalusi dari abad ke-9 Masehi, sampai akhirnya lepas dari gaya apapun. Belakngan, kaligrafinya semakin minimalis, seperti guratan huruf alif dalam bentuk garis vertikal yang membaur di tengah bidang kosong.

Bagaimana Anda memperlakukan kaligrafi? Jawabnya: Kaligrafi itu mencakup huruf Arab, Roman atau jenis lain. Kaligrafi berawal dari gaya dan titik yang membentuk huruf, dirangkai menjadi kata, lalu jadi kalimat yang membunyikan pesan. Tak hanya ayat al-Qur’an dan hadist, kaligrafi juga bisa membicarakan masalah politik, ekonomi, sosial, sastra, hukum dan lain-lain. Secara visual, anatomi kaligrafi sangat fleksibel sehingga leluasa diolah seperti apapun. Saya mempelajari kaligrafi dan sejarahnya, tetapi tidak terpaku dalam pakem penulisan. Saya bergulat dengan kaligrafi selama 35 tahun dan dengan seni rupa umum selama 45 tahun.

Bagaimana Anda melihat perkembangan lukisan kaligrafi sekarang? Jawabnya: Lukisan kaligrafi sekarang ini stagnan, jalan di tempat. Para pelukis terperangkap dengan memperlakukan kaligrafi hanya sebagai tulisan Arab atau pegon yang bersifat sacred-script untuk menyampaikan pesan al-Qur’an atau Hadis. Belum terbuka horizon baru yang menggambarkan dinamika dan inovasi segar. Memang seniman yang ikut melukis kaligrafi bertambah banyak, tetapi karya yang muncful hanya mengulang pendekatan lama. Tak terlihat perkembangan penting dibanding 20 tahun lalu. Itu terjadi karena para pelukis tidak mengembangkan wawasan dan konsep estetika. Jika dibiarkan, lukisan kaligrafi makin terpuruk, kekurangan peminat, dan lama-lama tenggelam.

Apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi kelesuan kreativitas ini? Jawabnya: Para pelukis harus bekerja lebih keras lagi untuk memperluas wawasan dan mengasah estetika. Bakat hanya berperan sekitar 10% bagi kesuksesan seniman. Sekitar 90% nya lebih ditentukan kerja keras dan disiplin berkreasi stiap hari. Melukis itu kerja total yang meliputi otak, rasa dan jiwa. Kaligrafi bisa dieksplorasi sampai tak terbatas. Jangan lihat huruf sebatas aksara fisik saja, tetapi sebagai sarana yang leluasa untuk mengkomunikasikan segala aspek kehidupan ini. Dengan begitu, kenapa pelukis kaligrafi tak terpanggil untuk mengangkat tema yang lebih beragam, memanfaatkan berbagai aksara dan menggali estetika visual baru?

Energi yang Tak Habis-habis

Kamis (22-3) pagi yang sejuk, A.D. Pirous duduk santai di teras lantai 2 rumahnya di Bukit Pakar Timur II, Ciburial Bandung. Dari situ terlihat pemandangan Kota Bandung di lembah yang diapit Gunung Manglayang dan Cikamojang. “Fenomena alam yang kaya dan dinamis jadi inspirasi saya untuk terus berkarya,” kata Pirous dengan wajah segar. Rumah yang dibangun tahun 2003 itu bergaya modern dengan warna dominan abu-abu. Itu merupakan rumah ketiga pasangan A.D. Pirous (75) dan Erna Garnasih (66) yang disiapkan untuk menikmati hari tua. Sebelumnya, mereka tinggal di kompleks perumahan dosen Institut Teknologi Bandung ((ITB) di Sangkuriang, kemudian di Cisitu. Biasanya setelah mencecap keindahan pemandanngan alam pagi hari, Pirous turun ke studio di lantai satu. Di situ semua peralatan melukis seperti cat, bubuk marmer, kuas, kertas emas dan minyak tertata apik diatas meja. Puluhan kanvas kosong dan lukisan setengah jadi tersandar rapi di dinding. “Saya mendisiplinkan diri untuk bekerja setiap hari. Saya melukis satu hingga dua jam. Setelah itu saya bermain bersama cucu atau menonton film. Ada ruang khusus audio visual dengan koleksi 3000-an judul film,” katanya. Pirous termasuk seniman sepuh yang energik dan produktif berkarya. Sekitar 1.500 karya lukisan dan 50-an grafis dibuat, puluhan pameran di dalam dan di luar negeri pernah ia ikuti. Resmi pensiun tahun 2003, beberapa tahun kemudian dia diangkat jadi profesor emeritus (seumur hidup) bidang desain di Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ITB.

Bagaimana perasaan Anda setelah menginjak usia 75 tahun? Jawabnya: Usia dan kesehatan merupakan berkah berlimpah yang saya syukuri. Saya bahagia karena bisa memanfaatkan itu untuk diri saya dan orang lain. Sabda Nabi Muhammad saw, Khairunnaasi anfa’uhum linnaas, sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Akan terus berkarya? Berkarya wujud rasa syukur atas apa yang diberikan Allah kepada manusia. Tidak ada kata pensiun untuk kerja kesenian. Hanya, sekarang saya harus mau berdamai dengan kekuatan fisik yang berangsur berkurang.

Berangkat dari berbagai halaman kitab perjalanan A.D. Pirous tersebut, secara tidak berlebihan materi pameran dan diskusi dalam kerangka pelepasan purnabaktinya ini, disajikan berupa jejak-jejak karya, dokumentasi dan perbincangan di seputar isi halaman tersebut. Maka tersusunlah materi pameran sebagai berikut :

Karya-karya seni lukis kaligrafi Arab (Islam). Merupakan materi pilihan karya-karya seni lukis kaligrafi Arab (Islam) yang merepresentasikan perjalanan penemuan dan pengembangan sejak tahun 1972 hingga 2003.

Karya-karya seni lukis non kaligrafi. Merupakan materi pilihan karya-karya seni lukis non-kaligrafi dari tahun 1954 hingga 2003. Beberapa karya seni lukis non kaligrafi A.D. Pirous sesungguhnya merupakan manifestasi bahasa rupa yang dibangun dari hasil pembacaan terhadap situasi dan kondisi keseharian, peristiwa sosial, politik, budaya dan petikan-petikan hikayat serta ayat suci al-Qur’an.

Karya-karya tema Aceh, yang seluruhnya nyaris menjadi bahan pameran.

Karya-karya seni grafis. Merupakan materi pilihan dokumentasi foto kegiatan pribadi dan akademik, disertai dokumen-dokumen lain berbentuk album, portofolio, buku dan katalog.

Pameran ini disajikan secara terbuka untuk masyarakat lingkungan di dalam dan luar kampus ITB, dengan harapan dapat membangkitkan sikap dan minat apresiasi serta keteladanan.

Adapun tentang perjalanan seninya secara lebih rinci dapat diterangkan sebagai berikut:

1. Pendidikan dan Pengangkatan

1964 : Lulus dari bagian Seni Rupa ITB, dengan studi utama pendidikan seni rupa.

Ditunjuk sebagai asisten dosen sejak tahun 1960, dan menjadi dosen tetap mulai tahun 1964 di bagian Seni Rupa (tahun 1984 menjadi Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB). Pernah mengajar mata kuliah: menggambar, melukis, seni grafis, seni kaligrafi, sejarah seni rupa barat dan sejarah seni Islam. Di samping mengajar di S1, juga mengajar di S2 untuk mata kuliah seni murni dan desain, serta mata kuliah seni rupa modern Asia Pasifik dan Asia Tenggara.

1968 : Belajar desain grafis dan seni grafis di The Department of Arts, Rochester Institute of Technology, New York, USA.

1972 : Mendirikan studio desain seni grafis, di jurusan desain, ITB dan diangkat menjadi ketua studionya.

1975 : Mendirikan kelompok seniman dengan nama “Decenta”, yang kegiatannya aktif menyangkut olah seni dan desain dalam pelayanan masyarakat.

1984 : Diangkat sebagai dekan pertama Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB, yang berakhir sampai dengan tahun 1990.

1989 : Diangkat sebagai wakil ketua umum Festival Istiqlal I, Jakarta.

1990 : Diangkat sebagai ketua dari Indonesian National Comitte untuk the Asian International Art Exhibition yang beranggotakan ± 10 negara Asia Pasifik.

1991 :Diangkat sebagai wakil ketua umum dan sebagai perancang (desainer) untuk pembuatan kitab suci al-Qur’an Mushaf Istiqlal (untuk iluminasi dan kaligrafi) oleh Menteri Agama RI.

1993 :Dikukuhkan sebagai guru besar madya dalam bidang seni rupa oleh Presiden RI.

1994 : Diangkat sebagai wakil ketua umum, panitia pelaksana, Contemporary Art of the Non Aligned Countries Jakarta 1995, organisasi induk oleh Depdikbud.

1995 : Diangkat sebagai anggota ahli dalam konsorsium perguruan tinggi dalam bidang seni oleh Depdikbud (diangkat kembali).

2. Pameran Tunggal

1972 : Pameran Seni Lukis Kaligrafi Islam, dalam rangka The Case Manhattan Art Program, Jakarta.

1976 : Pameran seni grafis-kaligrafi Islam (teknik cetak saring) dalam rangka The Case Manhattan Art Program, Jakarta.

1985 : Pameran Restropektif Lukisan Etsa dan Cetak Saring 1960 1985 atas undangan Taman Ismanil Marzuki, Jakarta.

1986 : Pameran Grafis (Print Exhibition) atas undangan The st. Martin School of Art di London, kerjasama dengan The British Council London.

2002 : Pameran Restropektif II, Vision, Faith and a journey in Indonesian Arts 1952 2002, Galeri Nasional, Jakarta.

2003 : Membaca Kembali Perjalanan A.D. Pirous (1964-2003) Aula Timur ITB dan Galeri Soemardja, Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB, pameran dalam rangka pelepasan tugas sebagai pengajar di FSRD ITB.

Pameran Tunggal “Words and Faith” atas undangan National Art Gallery, Kuala Lumpur, Malaysia.

2006 : Pameran Lukisan “Jabal Fana” bersama Amrizal Salayan (patung), Sasana Anak Negeri, BNI 46, Jakarta.

3. Pameran Bersama

1960 : Pameran Lukisan “Sangggar Seniman” di Balai Wartawan Bandung.

1961 : Pameran Lukisan “Artes Indonesian Contemporania” di Rio de Janeiro, di Brazilia.

1966 : Pameran Lukisan, Patung dan Grafis, “11 Seniman Bandung” di Balai Budaya Jakarta.

1967 : Pameran Lukisan dan Patung, “3 Seniman Bandung”, (A.D. Pirous, G. Sidharta, Kaboel S.) di Balai Budaya Jakarta.

Pameran Lukisan, “The Unseen Contemporary Indonesian Art Exhibition, di Bangkok, Thailand.

1968 : Pameran Lukisan dan Patung, “Dua Seniman” (A.D. Pirous dan G. Sidharta) di Balai Budaya Jakarta. Lukisan oleh A.D. Pirous dan patung oleh G. Sidharta.

1969 : Pameran Keliling Lukisan Indonesia di negara Inggris, berturut-turut di Eastbourne, Oldham, Reading, London dan Birmingham.

1970 : Pameran Lukisan Indonesia di Washington, USA, kerjasama dengan Departemen Luar Negeri RI dan Mobil Oil Company.

1971 : Pameran Seni Grafis dari 5 Seniman Grafis Bandung (Moechtar Apin, A.D. Pirous, Kaboel S., T. Sutanto, dan Haryadi S.) di Balai Budaya Jakarta.

1972 : Pameran the Art Exhibition of South East in Singapore, The Pilippines, Thailand dan Malaysia.

Pameran “The 8th International Bienale Exhibition of Prints,” The National of Modern Art Tokyo.

Pameran Lukisan, patung dan Seni Grafis, “ 18 Seniman Bandung” di Cipta Art Gallery, TIM, Jakarta.

1974 : Pameran Bienal Seni Lukis Indonesia I, di Cipta Art Gallery, TIM, Jakarta.

1975 : Pameran “The 3rd Triennale of India,” Lalit Kala Academy, Rabindra Bhavan, New Delhi, India.

The International Cultural Manifestation, “Peace 75 Uno 30”, di Slovenj Gradec Art Gallery, Slovenia, Yugoslavia.

Pameran Gambar Cetak Saring MCML XXV (The Exhibition of Screenprints 1975), Bandung – Yogyakarta – Surabaya.

1976 : Pameran Seni Grafis di Galerija Doma J.N.A Beograd, Yugoslavia.

Pameran Bienal Seni Lukis Indonesia II, di Cipta Art Gallery TIM Jakarta.

1977 :Pameran Seni Grafis, ”The Biennial of Graphic Arts,” Ljubljana, Yugoslavia.

1978 : “The 4th Triennial of India,” Lalit Kala Academy at Rabindra Dhavan, New Delhi, India.

“The Norwegian Internationale Prints Biennale,” at Fredrikstad, Norway.

“The Western Pacific Prints Biennale Melbourne,” organized by Print Council of Australia.

“The Clocester Country College”, USA. Sponsored by The International Print Society, USA.

1979 : “The International Exhibition of Graphic Art Moderna Galeriya, Ljubljana, Yugoslavia.

“The 8th Internatinal Festival of the Arts” United College of South East Asia, Singapore.

“ The 15th Contemporary Art Exhibition,” Tokyo Japan.

The Painting Exhibition, sponsored by the Japan Foundation and the Indonesian Directorate of Arts, Jakarta.

“The National Islamic Calligraphy Painting Exhibition, Semarang.

1980 : “The Asian Painting and Photography Exhibition, Jakarta.

“The Third World Biennale of Graphic Arts,” Iraqi Culture Center, London, England.

“The Contemporary Asian Art Show,” Fukuoka Museum, Fukuoka, Japan.

“The Singapore Festival of the Arts,” at The National Museum of Arts, Singapore.

“The Norwegian Internationale Prints Biennale,” at Fredrikstad, Norway.

1981 : “Asian Art Exhibition,” in Bangladesh.

“The International Exhibition of Graphic Art,” at Moderna Galeriya, Ljubljana, Yugoslavia.

“The National Islamic Calligraphy Painting Exhibition,” in Banda Aceh.

“The First of Asian Art Exhibition,” Manama, Bahrain.

“4 Grafiker aus Indonesien, Hennemann Gallery, IFA”, Bonn, West Germany.

“The Asean Exhibition of Painting,” Graphic Art and Photography, Bangkok, Thailand.

1982 :“Printing Exhibition of the Prizewinners in The Indonesia Painting Biennale,” 1974 1980, Jakarta.

1983 : “The Second Asean Exhibition of Painting and Photography, Kuala Lumpur, Malaysia.

“The National Islamic Calligraphy Painting Exhibition,” in Padang.

“4 Grafische Kunstenaars uit Indonesia,” Rijswijke Museum, Holland.

“The International Print Exhibition,” R.O.C., Taipei, Taiwan.

Art Exhibition,” Bandung Braunchweig,” Bandung, Indonesia.

“Visual Art Exhibition in relation to 35th Commemoration of Faculty of Art and Design,” Bandung Institute of Technology, Bandung.

1984 : “The Exhibition Painting and Khat, Tamaddun Islam,” National Gallery of Arts, Kuala Lumpur, Malaysia.

“The Third Asean Exhibition of Painting and Photography,” Manila, The Philippines.

Print Exhibition, “Intergrafik 84,” Berlin, East Germany.

The Indonesian Painting Exhibition, Galeri Baru, Ancol Jaya, Jakarta.

1985 : Art Exhibition in “Commemoration of the 30rd Asian African Conference, Bandung.

1986 : “Islamic Graphic Painting Exhibition,” Masjid Salman ITB, Bandung.

1988 : “The Exhibition of Indonesian Painting and Print,” Rotterdam Ethnological Museum, Holland.

1989 : “The Exhibition of Indonesian Painting ’89,” Borobudur Hotel, Jakarta.

“The 17th National Biennale Exhibition of Paintings,“ The Jakarta Art Council, Jakarta.

“The 3rd Asian Art Show,” Fukuoka Art Museum, Fukuoka Japan.

Painting Exhibition, Bentara Budaya Jakarta.

1990 : Painting Exhibition by 4 Painter Rotarians: A.D. Pirous, But Muchtar, Muchtar Apin, Sunaryo; Hommann Hotel, Bandung.

Exhibition of Indonesian Paintings, Merah Putih Gallery, Jakarta.

Calligraphic Painting with the Spirit of Islam, Yayasan Ananda, Jakarta.

The Painting Exhibition of Two Image, Mon Decor Gallery, Jakarta.

Painting Exhibition of Bandung Artist, Hidayat Gallery Bandung.

Painting and Printing Exhibition, “The Commemoration of 100 Years of Vincent Van Gogh,” French Culture Center (CCF), Bandung.

Bandung Printing Exhibiton, Taman Budaya Surakarta.

Painting and Print Exhibition, Nyoman Gunarsa Museum of Contemporary Painting, Yogyakarta.

Painting Exhibition, “ Small is Beautifull, Edwin’s Gallery, Jakarta.

Painting and Print Exhibition of 14 Bandung Artist, Bandung Indah Plaza, Bandung.

“The 5th Asian Art Exhibition,” Kuala Lumpur, Malaysia.

1991 : “Contemporary Indonesian Prints Exhibition,” The Japan Foundation Asean Culture Center Gallery, Tokyo, Japan.

Painting Exhibition, YASRI (The Indonesian Institute of Art), Jakarta.

Painting Exhibition, “Lingkar Mitra Budaya” (“The Patron of Art”), Hilton International Hotel, Jakarta.

“The Modern Islamic Art Exhibition,” Festival Istiqlal, Jakarta.

“Indonesian Modern Art Exhibition,” Kebudayaan Indonesia-Amerika Serikat, USA.

“The 6th International Asian Art Exhibition,” Fukuoka, Japan.

1992 : Exhibition of Paintings, “A.D. Pirous, Sunaryo, Umi Dachlan,” Bali Padma Hotel, Denpasar, Bali.

“Asean Selection,” National Museum, National Art Council, Singapore.

“The 7th Aseian Intrenational Art Exhibition,” Gedung Merdeka, Bandung. The Indonesian National Comitte, Indonesia.

1993 : Paris Jakarta 1950 1960 Painting Exhibition, CCF de Jakarta and Cedust Jakarta.

“Indonesian Modern Art,” Gate Foundation, Amsterdam, Holland.

“Asia Pacific Triennale of Contemporary Art,” Brisbane, Queensland, Australia.

“The 8th International Asian Art Exhibition,” in Fukuoka, Japan.

“Lintasan Seni Indonesia Denmark,” The Rotary Club, Pondok Indah, Jakarta.

1994 : “Exhibition of Islamic Calligraphic Paintings,” Jakarta Hilton Executive Club, Jakarta. Yayasan Wakaf Wakaluni & Wakapaya, Efa Enterprise, Bank Muamalat, Jakarta.

“Exhibition of the Image of Islamic Painting in Indonesia,” Gedung Pameran Seni Rupa, Depdikbud, Jakarta. Officiated by Vice President, Republic of Indonesia.

“The 9 th Asian International Art Exhibition,” Taipei, Taiwan.

Exhibition of Gelora Mutiara Ramadhan 1414 H,” Yogyakarta.

“The Jakarta International Fine Art Exhibition,” YASRI and Bradbury International Jakarta.

Exhibition of Paintings,”Simfoni Nusantara” Galeri Nusantara Jakarta.

Exhibition of Indonesian Islamic Contemporary Arts, The World Islamic Tamaddun in Kuala Lumpur, Malaysia.

1995 : Joint Painting Exhibition between the Artist from the Faculty of Fine Art and Design, Institute Technology of Bandung and Kyungsung University, Pusan, South Korea.

Contemporary Art of the Non Aligned Countries Exhibition, Jakarta.

“The 10th Asian International Art Exhibition, in Singapore.

“The Contemporary Indonesian Islamic art,” The 2nd Festival Istiqlal 1995, Jakarta.

“The 9 Indonesian Contemporary Visual Artist,” Embassy of the Republic of Indonesia and the Royal Academy of Fine Arts, Antwerpen, Belgia.

Painting Exhibition, Serambi Pirous, Bandung.

Exhibition of Asian Modernism (Indonesia, Thailand, Philippines) in Tokyo, Bangkok and Jakarta, Japan Foundation, Tokyo.

1996 : Inaugural Exhibition (South East Asia Art), Singapore Art Museum, Singapore.

“From Script to Abstraction,” Indonesian Contemporary Art Exhibition, Jordan National Gallery of Fine Arts, Amman, Jordan.

“9 Zeitgenossiche Maler aus Indonesien,” Gothaer, Kunstforum, Koln, Germany.

The National Modern Islamic Art Exhibition in relation to the Opening of Baitul Qur’an and Istiqlal Museum, Jakarta.

1997 : “Dialog Rupa 12 Seniman Indonesia,” Pameran Seni Rupa Kontemporer, Gedung Graha Niaga, Jakarta.

“13 Nutids Kunstnere fra Indonesien, Sophienholm,” Lyngby Kunstforening, Denmark.

Print Exhibition “Art Multiplicata,” Red Point Studio, Savoy Hommann Hotel, Bandung.

1998 : Calligraphic Painting Exhibition “Fitri Kaligrafi 1998,” Indonesian Art and Culture Program for 1998, Jayakarta Hotel, Bandung.

Indonesian Art Exhibition “Melacak Garis Waktu dan Peristiwa,” Directorate General of Education and Culture, Galeri Nasional, Jakarta.

“The 13th Asian International Art Exhibition,” Kuala Lumpur, Malaysia.

“Signifying Decorativeness Layers of Meaning,” organized by Australia Indonesia Institute and Directorate General of Arts and Culture of Indonesia.

1999 : “The 14th Asian International Art Exhibition,” Fukuoka, Japan.

Painting Exhibition, Apsari Gallery, Jakarta.

2000 : “The 15th Asian International Art Exhibition,” Taiwan Country Culture Affairs Bureau, Taiwan.

2001 : Bandung Art Event Biennale 2001,”Morality in Tension” at Griya seni Popo Iskandar, Bandung.

Painting Exhibition, by 12 Bandung Artist, Galeri Hidayat, Bandung.

2002 : “The 17th Asian International Art Exhibition,” Daejon Municipal Museum of Art, South Korea.

2003 : “The 18th Asian International Art Exhibition,” at the Museum Heritage Hongkong, Hongkong.

2005 : “The 20th Asian Internatioal Art Exhibition,” at Ayala Museum Philippines, Manila, The Philippines.

“Pameran Seni Rupa Angkatan 60,” Cipta Gallery 11, TIM, Jakarta.

2006 : “The 21th Asian International Art Exhibition,” at Singapore Art Museum, Singapore.

2007 : Pameran Lukisan “Kalam dan Peradaban,” di Jogja Gallery, Yogyakarta.

4. Monumental Artwork

1980 : Member of Design Team for all the artworks of the Sabilal Muhtadin Mosque in Banjarmasin (chandelier, wall calligraphy and openwork doors and gate with copper hammered technique).

1981 : Chief designer in setting up “The Historical Museum of the Asian African Conference,” in Bandung (interior, graphic communication system).

Commissioned for a high relief mural painting for the main office of the Ministry of Religion (3.50 m x 4.50 m) Jakarta.

1982 : Commissioned for a flourescent three dimensional calligraphic work, based on surah al-Ikhlas, length 60 m, height 9 m. Presentation of the work was made by the President of the Republic of Indonesia in conjuction of the National Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) XII, Banda Aceh.

Member of design team commissioned for renovating the mosque of Baiturrahman in Banda aceh (chandelier, wall calligraphy and openwork doors and gate with copper hammered technique).

1983 : Member of design team commissioned for Islamic wall calligraphy at the Istiqlal Mosque, Jakarta (134 m length, 2.6 m height, made of copper hammered).

1985 : Commissioned for a wall carpet for the main office of Bank Indonesia in Jakarta (4 m x 5 m).

5. Seminars, Symposiums, Lecturers

1979 : “Inventory Data and Documentation of Traditional Art and Craft in North Sumatera,” symposium. The Directorate of the arts Development, the Directorate of Culture, Department of Education, Medan.

1982 :“Notes on Book Covers Problems Seen From the Point of View Illustration and Typography,” seminar on Book Design. The Book Publisher Association of Jakarta.

1983 : “The Creator’s Response on Art Criticism in Indonesia,” Panel Discussion on Art Criticism in Indonesia, Jakarta Art Council.

“The Role of the Graphic Design in Packaging,” National Seminar on Packaging Design in Indonesia, The Department of the National Export Development, Department of Trade, Jakarta.

“The Role of the Aesthetic Elements in Interior Design in Indonesia,” the 4th National Designer Meeting, Association of Indonesian Interior Designer (HDIII) in Jakarta.

1985 :“Graphic Design Education as Visual Communication in Indonesia,” Seminar on Advertising. The Student Cooperation Board in Bandung.

1988 : “Indonesian Contemporary Art,” Seminar of “The Art of The Another World” Museum Voor Volkenkunde in Rotterdam, The Netherlands.

1989 : “Graphic Desain in Packaging,” Symposium for Graphic Design at Institute Seni Indonesia, Yogyakarta.

1999 : “Islamic Indonesian Contemporary Art: Plurality and Synthesis,” the 4th International Seminar on Contemporary Islamic Art, SOAS< University of London.

“Calligraphy, Visual Art,” Book’s article: “The Spirit of Islam in Indonesian Culture,” published by The 1st Istiqlal Festival, Jakarta (Text: Indonesian and Arabic).

1992 :“The Contemporary Islamic Art in Indonesia, Developments and Challengers,” National Art Gallery, Kuala Lumpur, Malaysia.

1993 : “Towards the Shaping of Visual Art in Asean Region,” the Tendency of the Strong Spiritual and religiom Elements,” the 2nd Asean Workshop, Exhibition and Symposium on Aesthetics, Manila, The Philippines.

1995 : “Development and Current Issues in Contemporary Indonesian Art,” The Royal of Academy of art, Antwerpen, Belgium at the National Gallery of Fine Art, Amman Jordan (1995) and at the Sophienholm Museum, Lingby, Denmark (1997).

1999 : Artikel “Tiga Saat Tak Terlupakan Bersama, Dany Lombard dimuat dalam Panggung Sejarah, Persembahan kepada Prof. Dr. Danys Lombard,” editor Henri Chambert Loir, Hasan Maarif, Anifari, diterbitkan oleh: Ecole Francaise d’Extrime Orient, Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.

2001 : Tulisan “Persinggahan ke Paris Sebagai Perjalanan Budaya,” dimuat dalam buku “Rantau dan Renungan III, Budayawan Indonesia tentang Perjalanannya ke Perancis,” Penyunting: Ramadhan KH dan Ade Pristie Waluyo, diterbitkan oleh Forum Jakarta Paris.

2003 : Menerbitkan buku “Menulis itu Melukis,” kumpulan buku A.D. Pirous masa 1963-2003, disunting oleh Dr. Dudy Wiyancoko, diterbitkan oleh penebit ITB dan Yayasan Serambi Pirous, Bandung.

2005 :Tulisan “Tiga Percakapan Tentang Aceh,” dimuat dalam buku “Aceh Kembali ke Masa Depan,” kata pengantar Prof Darsono W. Kusumo, Penyunting Naskah, Bambang Bujono, IKJ Press.

2006 : Tulisan “Perjalanan Merambah Seni Rupa Islami Indonesia” dimuat dalam buku “Perjalanan Kesenian Indonesia Sejak Kemerdekaan,” disunting oleh Philips Yampolsky, diterbitkan oleh Ford Foundation bersama Equinox Publishing Singapore.

Tulisan “Sejarah Poster Sebagai Alat Propaganda Perjuangan di Indonesia,” diterbitkan dalam jurnal Ilmu Desain Fakultas Seni Rupa, ITB, Vol.1, No.3, 2006.

(dari berbagai sumber)

Last Updated on Wednesday, 16 March 2011 15:17